AIR MATA UNTUK GURU YANG DIELU

Penulis: Muhammad Syafi’i Saragih, M.A

Air mata saya tak berhenti mengucur deras, dada sesak rasanya, ketika pembawa acara takziyah membacakan riwayat hidup seseorang yang tak lain guru saya sewaktu nyantri di pesantren Al Kautsar di daerah kabupaten Simalungun Sumatera Utara. Saya sendiri tidak tau kenapa bisa begitu. Tapi yang jelas, saya merasakan kehilangan seseorang yang begitu dekat. pak Suyanto, guru saya dulu. Kehadirannya sebagai guru betul-betul membekas di hati saya bahkan setelah waktu berlalu puluhan tahun lamanya. Bukan hanya saya, teman-teman saya yang waktu itu pernah menjadi murid almarhum, juga merasakan hal yang sama. Kehilangan.

Masih segar betul dalam ingatan saya, bagaimana beliau mendidik kami selama enam tahun di pesantren. Kepribadian dan kekarismatikannya benar-benar membuat murid terkesan. Ketika mendapat berita kalau beliau sakit, banyak sekali orang datang menjenguk, apalagi murid-muridnya. Dan ketika berita kalau beliau meninggal dunia tersebar, ungkapan bela sungkawa begitu banyak berdatangan. Terutama dari para muridnya dulu. Kesabaran dan kelemahlembutannya yang membuat ia menjadi sosok yang dirindu. Tak hanya oleh keluarganya, tapi juga orang lain.

Jujur, saya kehilangan beliau seperti kehilangan keluarga dekat. Padahal, almarhum bukan keluarga secara garis keturunan. Namun kepribadiannya yang indah mempesona banyak orang. Kepedulian, kelemahlembutan, kesabaran, kasih sayang, penghargaan pada orang lain, ini yang membuatnya menjadi guru yang dirindu, guru yang digugu dan ditiru, guru yang mampu menularkan kebaikan-kebaikan kepada orang banyak.

Pak, Bu, wahai para guru bangsa, mampukah kita menjadi guru yang dirindu itu?

Saya yakin kita semua bisa jadi guru dambaan. Asal mau, pasti ada jalan. Apa kuncinya?. Kasih sayang, peduli, empati, menghargai murid, sabar dan inspiratif. itu kunci bisa menjadi guru yang dirindu. Yakinlah kalau sikap-sikap ini ada pada kita, maka anda harus siap-siap menjadi guru yang dipuja dan dinanti.

Artikel Menarik Lainnya  Bagaimana Rasa Benci Itu Muncul?

Anda harus memiliki jiwa menyayangi murid selayaknya menyayangi anak atau saudara sendiri. Anda akan merasa susah kalau tau murid susah, mungkin sedang ada masalah atau lainnya. Senyuman di wajah murid, adalah kebahagian kita, tangisnya, adalah kesedihan kita.

Ideal?, Ya.. inilah guru yang ideal itu. Tapi mungkinkah itu bisa sepenuhnya kita lakukan?, Setidaknya sebagian saja sikap-sikap itu kita tampilkan, insyaAllah, bersiaplah jadi guru yang dielu.

MUHAMMAD SYAFII SARAGIH

Saya Guru dan Dosen, suka Menulis dan Meneliti, sudah Menulis beberapa buku yang terbit di penerbit Mayor. dan mengisi pelatihan baik umum maupun mahasiswa. KontaK Person: 0852 6194 1878

Leave a Reply

Your email address will not be published.