BULAN YANG DIRINDUKAN

Penulis: DR. Muhammad Qorib, M.A

Wakil Ketua PWM Sumut, Dekan FAI UMSU

Rasa rindu menjadi salah satu anugerah terbesar dari Allah. Rasa itu mengajarkan kita betapa berartinya kebersamaan, betapa sedihnya kehilangan, betapa perihnya ditinggalkan, betapa menyiksanya penantian, dan betapa beratnya implementasi dari kesabaran.

Rasa rindu sering berbarengan dengan munculnya harapan dan kecemasan. Harapan mengandung makna bahwa sesuatu yang dirindukan akan datang, demikian pula dengan kecemasan, bahwa sesuatu yang dirindukan akan berpotensi sebaliknya.

Tak terkecuali rasa rindu kepada Ramadhan, sebuah bulan yang sangat kita nantikan. Ingin rasanya waktu diputar lebih cepat agar berjumpa dengan bulan itu. Aura kebahagian terpancar terang di wajah kita menyambut kehadiran bulan mulia tersebut. Doa-doa kita mohonkan kepada Allah agar durasi hidup kita sampai di bulan Ramadhan.

Kita seperti berayun diantara harapan dan kecemasan itu. Kita berharap bahwa nafas kita masih tersambung untuk bertemu Ramadhan. Kita juga merasa cemas jika sebelum kedatangannya, Allah memanggil kita ke keharibaan-Nya.

Meskipun sebagai bulan untuk meningkatkan kualitas ibadah, Ramadhan juga menjadi bulan budaya. Beberapa hari sebelum bulan tersebut tiba, umat Islam menyambutnya dengan berkumpul bersama dan menyiapkan makanan dan minuman untuk disantap. Tak lupa doa-doa dilantunkan untuk berbagai kebaikan.

Ini yang dikenal dengan istilah punggahan. Spirit punggahan adalah menaikkan kualitas fisikal dan spiritual di sisi Allah. Tradisi ini memupuk kebersamaan dan persaudaraan sebagai salah satu misi penting yang terkandung dalam Ramadhan itu sendiri.

Ramadhan menjadi media rekonsiliasi antara kita sebagai hamba kepada Allah sebagai Khalik. Selama ini, Allah Yang Maha Kuasa sering kita ingat di saat posisi kita di taring derita. Allah adalah Zat Yang Maha Sayang, namun nama-Nya selalu kita sebut di saat kita diterpa bencana.

Artikel Menarik Lainnya  Merajut Kerukunan dalam Bingkai Keragaman Agama dan Pendapat

Ramadhan menarik kembali kiblat hidup kita untuk senantiasa beredar pada orbit Kesucian-Nya. Kita disadarkan bahwa diri kita kecil tanpa Ke-Maha Baikan-Nya. Ramadhan menyemai kembali benih ilahiah, memupuk dan menyuburkannya.

Ramadhan menjadi semacam oase di tengah eksistensi spiritualitas kita yang kering. Bulan suci tersebut berfungsi merajut kembali relasi insani yang selama ini kita gadaikan atas nama kepentingan. Ramadhan mencabut akar-akar egoisme dan keangkuhan yang melekat kuat di hati kita. Kedua sifat yang merusak itu sering mengantarkan kita seperti raja.

Kita perbudak orang. Kita perlakukan mereka di luar ukuran kemanusiaan. Pijar Ramadhan menonaktifkan serbuk-serbuk kebencian yang mengikis rasa kemanusiaan. Ramadhan membakar kedengkian yang memantik api amarah dan merusak imunitas persaudaraan.

Indahnya malam-malam Ramadhan tak tertampung dalam kata-kata. Gema tadarus Alquran bersahutan dari satu masjid ke masjid lain. Kuliah tarawih, kuliah subuh, kuliah dhuha, kuliah menjelang berbuka sangat mudah ditemukan. Materi yang disajikan sangat beragam., substansinya tentang ketakwaan.

Di siang hari, rasa haus dan lapar menjadi tali pengikat perasaan. Dari yang muda sampai yang tua, dari yang kaya sampai yang miskin, merasakan harus dan lapar yang sama.

Haus dan lapar tak memandang strata sosial, semua diperlakukan sama di bulan mulia tersebut. Muaranya satu, yaitu tumbuhnya jiwa welas asih, kerelaan untuk berbagi, dan menyalanya lentera kebajikan untuk sesama.

Ramadhan menumbuhkan etos ekonomi. Sore hari menjelang berbuka, deretan pedagang kecil menjajakan makanan dan minuman. Fenomena ini menjadi bukti kasat mata bahwa Ramadhan selain sebagai bulan ibadah secara khusus, juga menjadi bulan ibadah secara umum, yaitu lahirnya dinamika ekonomi umat.

Tak saja untuk umat Islam, non Muslim sekalipun terlibat aktif dalam siklus interaksi ekonomi tersebut. Ramadhan mengajarkan bahwa Islam adalah agama peradaban, bukan agama teriakan. Ramadhan membimbing kita untuk memahami bahwa Islam diantaranya dibangun lewat ketangguhan ekonomi.

Artikel Menarik Lainnya  Filosofi Titik Dua

Umur memang diatur dan kepastian kapan habisnya menjadi urusan Allah. Melihat betapa banyak keluarga inti, sahabat dekat, kerabat, yang sudah mendahului kita, ada semacam perasaan bahwa kita tidak dapat bertemu Ramadhan yang mulia itu. Namun Allah dan Rasul-Nya senantiasa membimbing kita untuk senantiasa optimis dan produktif.

Tidakkah Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk berdoa ketika memasuki bulan Rajab dan Bulan Sya’ban? Dua waktu sebelum Ramadhan tiba? “Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami pada bulan Rajab dan bulan Sya;ban, dan sampaikanlah usia kami untuk memasuki bulan Ramadhan.”

Semoga Allah memanjangkan umur kita, memberikan kita kesehatan, sehingga dengan umur serta kesehatan itu kita dapat bertemu dengan Ramadhan yang penuh berkah. Insya Allah.

Selamat datang bulan yang dirindukan umat Islam sedunia. Selamat datang Ramadhan.

MUHAMMAD SYAFII SARAGIH

Saya Guru dan Dosen, suka Menulis dan Meneliti, sudah Menulis beberapa buku yang terbit di penerbit Mayor. dan mengisi pelatihan baik umum maupun mahasiswa. KontaK Person: 0852 6194 1878

Leave a Reply

Your email address will not be published.