Cinta Seiring dengan Ridha

Penulis   : Ayu Ramadhani, S.Pd

Profesi   : Pendidik

Hayo siapa nih yang semangat banget begitu baca kata “cinta” ? Wkwkwk. Ada sebuah syair indah Jalaluddin Rumi yang sangat baik dijadikan prinsip hidup, isi syairnya gini “Dengan hidup hanya sepanjang tarikan nafas jangan tanam apa-apa kecuali cinta”. Kita semua pasti menyadari bahwa kehidupan di dunia ini tidak kekal. Sejatinya kita sangat sebentar singgah di dunia ini. Oleh sebab itu jangan tanam apapun di hati kita selain cinta. Artinya tiada kebencian dan sejenisnya di dalam hati. Sebab, bila hati kita telah kita nodai dengan kebencian, iri, dengki dan kawan-kawannya sudah pasti melahirkan sifat, sikap dan kepribadian yang tidak baik bahkan merugikan orang lain, Menzhalimi orang lain. Bila kehidupan diisi dengan berbagai keburukan, kebencian dan kezhaliman.. bagaimana kita mempertanggung jawabkan kehidupan singkat kita ini di hadapan Allah ? Apa yang akan kita katakan padaNya kelak ?. Baiklah mungkin itu terlalu jauh, kita sederhanakan dengan realita di dunia. Coba kita tanya diri kita masing-masing, ketika hati kita dihiasi dengan kebencian dan keburukan lainnya.. apa yang kita rasakan ? Pasti, tidak ada kenyamanan di dalamnya.. tidak ada kedamaian di dalamnya. Sekalipun merasa bahagia telah menzhalimi orang lain, pasti masih ada kegelisahan di hatinya. Iyakan ? Sebaliknya, bila hati kita hanya dihiasi cinta.. yang kita rasakan hanya kenyamanan, kedamaian, kebahagiaan. Hati yang dipenuhi dengan cinta hanya melahirkan sifat dan sikap yang baik nan indah. Mustahil baginya melakukan kezhaliman dengan sengaja.

Nah, kenapa sih cinta hanya melahirkan keindahan, kenyamanan, kedamaian, kebahagiaan ? Sebab Cinta Seiring dengan Ridha.. rela hati, lapang hati dan senang hati atas apapun yang ada pada segala yang ia cinta. manusia yang cinta pada Sang Pencipta. Orang tua yang cinta pada anak. Anak yang cinta pada orang tuanya. Suami yang cinta pada istrinya, begitu sebaliknya. Mertua yang mencintai menantunya. Sahabat yang mencintai sahabatnya. Tetangga yang mencintai tetangganya, dan lain sebagainya.

Artikel Menarik Lainnya  Menganalisa "Kemusyrikan" (Penyebab Kerusakan Tanggungjawab dalam Bercinta).

Orang tua mencintai anaknya pasti ridha dengan apapun yang ada dalam diri anaknya. Pernah gak lihat ada orang tua yang memiliki anak tidak sempurna fisik namun tetap menyayangi anaknya, tetap merawat anaknya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang ? Pasti pernah kan ? Nah kenapa orang tuanya menerima keadaan anaknya yang seperti itu ? Iyah,, sebab orang tuanya mencintai sang anak, sudah pasti orang tua pin ridha dengan kondisi anaknya yang tidak sempurna. Begitu juga anak yang mencintai orang tuanya. Mungkin orang tuanya tidak seberuntung orang tua teman-temannya yang berpenghasilan besar, memiliki kedudukan tinggi di tengah masyarakat, tidak mampu memiliki rumah bagus nan mewah. Tapi anak tetap mencintai orang tuanya, tidak protes dengan apapun pekerjaan orang tuanya selama itu halal ia ridha dengan segala kondisi orang tuanya. Suami yang mencintai istrinya atau sebaliknya pun demikian. Mereka ridha dengan apapun yang ada pada pasangannya. Mungkin pasangannya tidak tinggi, rambut keriting seperti mie instan bahkan lebih parah, kulit hitam, hidung pesek dan lain sebagainya. Tidak masalah baginya, ia ridha atasnya. Atau mungkin pasangannya dinilai kurang cerdas setiap diajak bicara gak nyambung, dan banyak kekurangan serta kelemahan lainnya, ia tetap ridha. Lantas bagaimana dengan sifat dan sikap buruknya yang sudah jelas dibenci oleh Allah ? Apakah kita harus ridha juga ? Nah, bila berhubungan dengan sifat maupun sikap yang buruk kita tidak boleh menerimanya gitu aja. Bila kita mencintainya pasti kita ingin ia menjadi lebih baik. Supaya apa ? Ya supaya kita tetap bisa bersamanya di Surga. Bila kita menerima sifat dan sikap dia yang dibenci Allah bagaimana bisa kita bersama dengannya di Surga Allah ?  Jadi kita harus membantunya berubah menjadi lebih baik dengan cara yang dibenarkan oleh Allah. Dari menasehatinya dengan lembut hingga terus mendoakannya, sebab sejatinya hidayah hanya Allah yang punya.. Allah yang berhak memberi pada siapapun yang Dia kehendaki.

Artikel Menarik Lainnya  Jangan Sumpahi Anak Dengan Yang Tak Baik

Terus kami yang jomblo ini gimana dong ? Kami mencintai seseorang tapi kami belum siap secara keseluruhan untuk menikahinya. Atau mungkin perempuan yang bisanya hanya menunggu. Yauda cintai ia dalam doa.. aassseeekkk.. wkwkwk. Teman-teman Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan.. jangan takut gak kebagian jodoh dan gak dipertemukan dengan jodohnya. Kalaupun tidak bertemu di dunia pasti bertemu di Surga.. In Syaa Allah. Baik.. mungkin ada seorang lelaki yang mengagumi seorang wanita namun belum siap secara keseluruhan untuk menikahinya. Yauda siapkan apa yang belum siap. Mungkin belum siap secara finansial, persiapkan, giatlah berusaha. Jangan lupa berdoa, kalau jodoh In Syaa Allah didekatkan dan dimudahkan. Bila dalam upayamu itu ia telah lebih dulu menikah dengan orang lain, pasti engkau ridha. Bila itu benar-benar cinta bukan nafsu belaka. Karena cinta seiring dengan ridha. Ketika engkau ridha, pikiran positif dan prasangka baik pasti menghiasi dirimu. Engkau juga tetap merasa bahagia, sebab kebahagiaan orang yang engkau cintai adalah bagian dari  kebahagiaanmu.

Mungkin ada wanita yang mencintai seorang pria namun ia enggan meminta pria tersebut untuk menikahinya terlebih pria tersebut terliht sholeh dan sang wanita biasa-biasa saja, bahkan mungkin belum menutup aurat secara sempurna. Jadi, sembari menunggu pria tersebut menikahinya (walaupun kemungkinan terjadi kecil hehe) sang wanita mulai memperbaiki dirinya. Mulai menutup aurat secara sempurna, semakin giat beribadah, sering ikut kajian dan lain sebagainya. Namun dalam proses memperbaiki diri ternyata sang pria menikahi wanita lain ya tidak masalah baginya, ia ridha. Dan tetap istiqomah untuk terus memperbaiki diri. Bila hal tersebut malah menjadikan wanita tersebut kembali pada keburukannya berarti bukan cinta melainkan nafsu, ia memperbaiki diri tidak Lillahi Ta’ala melainkan untuk dapat memiliki pria yang dipuja.

Artikel Menarik Lainnya  Daring Lagi....Daring Lagi; Tips Menyiasati Pembelajaran Daring

Begitu pula cinta makhluk pada Tuhannya. Cinta hamba pada Allah. Bila kita benar-benar mencintai Allah pasti kita ridha atas segala ketetapannya. Kita ridha atas segala perintah-Nya dengan cara sepenuh hati menjalani perintah-Nya. Beribadah karna cinta pada-Nya, bermuamalah karna cinta pada-Nya, senantiasa melibatkan Allah atas segala yang berkaitan dengannya sebab cinta pada-Nya, meninggalkan yang dilarang dan dibenci Allah sebab cinta pada-Nya. Bahkan menjalani ujian yang teramat sangat rumit dan menyakitkan dengan ridha sebab cinta pada-Nya. Ayo mari sama-sama kita cek diri kita, sudahkan kita benar-benar mencintai-Nya ? Atau cinta pada-Nya hanya sebatas di lisan saja ?

Wallahu A’lam

MUHAMMAD SYAFII SARAGIH

Saya Guru dan Dosen, suka Menulis dan Meneliti, sudah Menulis beberapa buku yang terbit di penerbit Mayor. dan mengisi pelatihan baik umum maupun mahasiswa. KontaK Person: 0852 6194 1878

Leave a Reply

Your email address will not be published.