Daring Lagi….Daring Lagi; Tips Menyiasati Pembelajaran Daring

Penulis: Muhammad Syafi’i Saragih, M.A

Dosen, Penulis, Guru di Pesantren Modern Al Barokah Simalungun 

Harapan untuk belajar tatap muka secara normal awal Januari ini kandas, setelah pemerintah kembali mengeluarkan keputusan untuk tetap belajar secara daring sampai waktu yang belum dapat dipastikan. Tentu saja ini kekecewaan yang cukup dalam bagi para murid dan guru yang sudah sangat rindu dengan suasana belajar seperti dulu, sampai-sampai kerinduan itu tertuang dalam banyak lirik lagu dan video yang berseliweran di dunia maya. Ada pula yang membuat quotes dan meme-meme sebagai unjuk rasa kekecewaan. Ada yang bilang, mall, tempat hiburan, pasar dan toko-toko dibuka, kok sekolah ditutup?, Ya.. semua itu karena cinta guru dan murid untuk belajar bersama serasa seperti dihalangi. Soalnya, proses belajar daring sudah hampir setahun lamanya. Bisa kebayangkan?, Kalau tak jumpa dengan yang dicinta setahun lamanya?, Hehehe..Namun, sejatinya pemerintah barangkali tak bermaksud seperti itu. Tentu, pemerintah punya pertimbangan sendiri yang pastinya punya niat baiklah, untuk anak Indonesia dan seluruh guru dan pendidik bangsa ini. Kita terus berdoa agar pandemi ini cepat berlalu.

Sekarang yang perlu menjadi perhatian kita adalah, bagaimana menyiasati pembelajaran daring ini?,

  1. Guru dan orang tua harus mempunyai pikiran yang sama. Seperti apa itu?, begini. Orang tua dan guru harus punya pikiran yang sama bahwa dalam masa pandemi ini anak tidak dipaksa untuk memahami seratus persen materi yang disampaikan oleh guru secara daring. Kenapa?, ada beberapa alasan, pertama; penyampaian materi yang dilakukan secara daring tentu akan lebih sulit dipahami oleh anak. Jangankan lewat daring, dengan tatap muka saja banyak anak-anak yang harus berjuang keras memahami materi. Kedua, tidak semua orang tua anak mempunyai fasilitas belajar daring, katakanlah HP jenis android yang harganya mahal bagi sebagian orang tua. Belum lagi fenomena “gaptek” terutama para orang tua dan anak yang tinggal di daerah pedalaman dan desa tertinggal. Ketiga, tidak semua pula daerah di Indonesia ini berpeluang untuk dapat sinyal yang bagus untuk mendukung proses belajar daring yang maksimal.
  2. Guru yang mengajar daring harus mampu menyerderhanakan materi ajarnya. Artinya bahwa materi ajar jangan seperti keadaan normal. Guru harus mampu dan kreatif menyederhanakan materi yang kompleks untuk dapat lebih mudah dipahami oleh anak.
  3. Orang tua harus melakukan pendampingan belajar anak. Ini sangat penting. Jangan dibiarkan anak belajar tanpa pendampingan. Supaya apa?, pertama; pengawasan agar anak benar-benar memanfaatkan HP atau laptop sebagai sarana belajar daring. Kedua, secara psikologis, anak akan merasa bahwa orang tuanya memiliki perhatian pada anak tentang pendidikannya, sehingga anak akan lebih percaya diri dan termotivasi. Nah, bagaimana dengan orang tua yang tidak punya waktu?, karena mungkin sibuk dengan pekerjaan di luar rumah?. Tentunya, tidak selama 24 jam kita orang tua bekerja to?, ada waktu yang tetap bisa disisihkan oleh orang tua untuk anak. Ya, bisa jadi malam hari setelah shalat maghrib, duduk bersama anak untuk mendampingi atau mengulangi belajarnya. Tak mesti berjam-jam, setengah jam atau saju jam duduk bersama anak sudah bisa jadi waktu yang sangat berkualitas. So, sebenarnya tidak ada alasan untuk mengatakan “saya tak punya waktu”.
  4. Sudah saatnya pembelajaran daring lebih fokus pada pembentukan karakter anak. Di sini, guru dan orang tua yang mendampingi anak belajar hendaknya fokus pada pembentukan karakter dan akhlaknya. Dan yang pasti, peran orang tualah yang lebih utama di sini. Sebab, anak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah daripada di sekolah. Bisa jadi ini salah satu hikmah juga dari pandemi ini, agar orang tua lebih memaksimalkan perannya dalam membentuk anak yang berakhlak mulia dan berkarakter, yang selama ini barangkali orang tua lebih berharap besar pada sekolah untuk pendidikan anak-anaknya. Padahal sejatinya, rumahlah pembentuk awal akhlak dan karakter anak itu sendiri.
Artikel Menarik Lainnya  Jangan Sumpahi Anak Dengan Yang Tak Baik

Allahu A’lam

MUHAMMAD SYAFII SARAGIH

Saya Guru dan Dosen, suka Menulis dan Meneliti, sudah Menulis beberapa buku yang terbit di penerbit Mayor. dan mengisi pelatihan baik umum maupun mahasiswa. KontaK Person: 0852 6194 1878

Leave a Reply

Your email address will not be published.