HADIAH ISRA’ MI’RAJ RASUL UNTUK KITA

Penulis: Muhammad Syafii Saragih, M.A

Salah satu mukjizat besar yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw adalah Isra’ mi’raj. Satu peristiwa yang para Nabi lain tidak mendapatkannya. Isra’ dan Mi’raj, satu perjalanan yang kalau dinalar, jadi sesuatu yang mustahil. Bagaimana tidak?, perjalanan dari Mekkah ke Yerussalem yang kira-kira jaraknya 1.483 KM, yang kala itu ditempuh memakan waktu hampir sebulan, Nabi menempuhnya hanya dalam satu malam, belum lagi ditambah perjalanan dari bumi ke langit tujuh yang satu malam itu tuntas dilalui. Mustahilkan?, kalau pakai nalar logika manusia ya pasti mustahil. Tapi ini memang bukan perkara nalar logika, melainkan perkara iman. Salah satu dampak dari kemustahilan ini, orang-orang Quraisy dan para musuh Nabi tambah yakin kalau Nabi Muhammad itu orang gila dan terkena pengaruh sihir. Hanya para sahabat sejati beliau dan beberapa lainnya yang percaya dengan cerita Nabi ini. Dan salah satu sahabat masyhur yang langsung percara dengan cerita Nabi adalah Abu Bakar As-Shiddieq.

 “Jika dia berkata demikian, sungguh aku akan membenarkan apa yang dia sampaikan, bahkan walaupun lebih dari itu. Aku membenarkan berita langit baik di pagi atau sore hari.” (HR. Hakim, dinyatakan shahih dan disetujui oleh Imam Az-Zahabi).

Sepulangnya Rasulullah Saw dari perjalanan spiritual itu, tak lupa beliau membawa oleh-oleh yang sangat berharga yang sampai hari ini menjadi warisan Nabi buat ummatnya. Apa itu?, shalat. Ya, shalat yang awalnya harus didirikan lima puluh kali, namun karena saran Nabi Musa, dan karena sayangnya Rasulullah Saw kepada ummatnya, berkali-kali baginda kita naik turun dari langit ke sidratul Muntaha memohon kepada Allah Swt agar menguranginya, hingga kemudian Allah Swt mewajibkannya menjadi lima kali dalam sehari semalam. Dimana Allah akan menjanjikan surga bagi mereka yang mendirikannya tepat waktu, dan tidak menjanjikan apapun bagi mereka yang tidak mendirikannya.

Artikel Menarik Lainnya  Filosofi Titik Dua

Sekarang, sudahkah kita benar-benar mendirikan hadiah terbesar dari baginda kita Rasulullah Saw ini?, sudahkah kita shalat tepat waktu dan berjamaah bagi kita yang pria?, sudahkah kita mendirikan shalat dengan sepenuh hati hingga berbekas pada kehidupan kita?, sudahkah kita mendirikan shalat dengan benar?, sudahkah kita menjadi bagian dari orang yang berperan untuk membumikan shalat bagi keluarga kita, orang-orang tersayang kita?, tetangga kita, saudara-saudara kita, masyarakat dan bangsa kita?, tepuk dada, tanya diri sendiri, jawablah dengan sejujur-jujurnya, hanya kita dan Allah Swt yang tau jawabannya.

Perlu untuk merefleksi diri agar kita senantiasa awas dan sadar tentang seberapa jauh sudah kita dari Allah Swt dan baginda kita. Perjalanan spiritual baginda kita bukanlah kepentingan pribadi beliau, tapi sesungguhnya, untuk kepentingan kita umatnya.

Lagipula, bukankah shalat menjadi amal pertama kita yang akan dihisab?,

 عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :  إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ : انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Amalan hamba yang pertama kali dihisab hari kiamat adalah sholat, jika sholat itu bagus, dia beruntung dan berhasil, jika cacat dia menyesal dan merugi. Bila sholat wajibnya tidak sempurna, Allah SWT berkata, ”Lihatlah apakah hamba-Ku punya amalan sunnah sehingga bisa menutupi amalan wajibnya, dengan demikian tertutup segala amalnya.” 

Sesungguhnya peran dan dampak shalat tidak hanya untuk pribadi saja, melainkan untuk dampak kehidupan yang lebih luas, yaitu bangsa dan negara. Orang-orang yang shalatnya benar, maka akan tampak dan berbekas pada karakter dan akhlaknya sehari-hari. Semakin banyak orang yang shalatnya benar, maka sejatinya, sedang bertambahlah orang-orang yang benar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bayangkan jika para pemimpin kita adalah orang-orang yang senantiasa mendidirkan shalat dan benar shalatnya. Maka kehidupan berbangsa yang diharapkan akan lebih dekat dari kenyataan.

Artikel Menarik Lainnya  MASJID BUKAN TEMPAT SIMPAN UANG

Jadi, hadiah terbesar peristiwa isra’ Mi’raj baginda Rasulullah Saw “shalat”, bukan sekedar soal kesalehan individu, melainkan, dampak dari kesalehan individu itu akan membentuk masyarakat, bangsa, dan negara yang benar. Apa sih ciri bangsa yang benar itu?, sebagaimana misi Nabi Muhammad Saw dan seluruh utusan Allah adalah menegakkan “persamaan derajat, keadilan, dan persaudaraan manusia”. Sudahkah bangsa dan negara kita ini merasakan dampak luar biasa dari perintah shalat?.. Allahu A’lam

MUHAMMAD SYAFII SARAGIH

Saya Guru dan Dosen, suka Menulis dan Meneliti, sudah Menulis beberapa buku yang terbit di penerbit Mayor. dan mengisi pelatihan baik umum maupun mahasiswa. KontaK Person: 0852 6194 1878

Leave a Reply

Your email address will not be published.