Indonesia, Samakah dengan Syiria?

Penulis:

Prof. Dr. H. Hasan Bakti Nasution, M.A

Guru Besar Filsafat & Direktur Pascasarjana UINSU Medan

Syiria, atau dalam literatur klasik disebut Syam, adalah suatu negara sebelah Utara Saudi Arabia. Negara ini memiliki peran penting, karena di sini pernah dijadikan sebagai pusat kekuasaan Islam selama 90-an tahun, jelasnya selama dinasti Umaiyah berkuasa. Kotanya, katanya sangat indah seperti juga kota-kota sekitar seperti Lebanon, karena belum pernah menyaksikan secara visual. Orangnya juga, tidak seperti Arab kebanyakan, mereka berkulit putih kemerah-merahan. Mungkin ini akibat dari kawin silang dengan ras Eropa dan Asia Tengah. Dari sana muncul banyak penyanyi terkenal, termasuk katanya seorang penyanyi wanita yang kemudian menjadi isteri pesepakbola profesional Spanyol.

Selama pemerintahan Hafez al-Asad, Syiria menjadi negara kuat dan disegani lawannya, seperti Israel dan Amerika. Buktinya, ia berhasil menarik kembali daerahnya yang dicaplok Israel, yaitu dataran tinggi Golan. Dari segi agama, masyarakatnya beragama mayoritas Muslim dan sedikit Kristen. Muslim sendiri terdiri atas dua aliran, yaitu Sunni sebagai mayoritas dan Syi’i sebagai minoritas, namun Hafez al-Asad sendiri dari Syi’i.

Kendati Syi’i, namun ia memberikan toleransi yang kuat dengan memberikan kebebasan sunni beragama sesuai pemahamannya, sehingga jadilah Syiria tempat yang subur bagi pemahaman sunni, kendati berada di kawasan Syi’i. Namun kemesraan sunni-syi’i mengalami kegoyahan saat kekuasaan berada di tangan sang anak sebagai penerus, yaitu Bashar al-Asad. Oleh pengamat Timur Tengah ini diaktikan dengan keterlibaratan asing, jelasnya Iran yang ingin mengembangkan faham syi’ahnya ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Lalu apa yang terjadi kemudian ialah perang saudara, perang sesama umat Islam, jelasnya antara rakyat yang sunni dan penguasa yang syi’ah. Awalnya kecil, namun karena kedua sisi mendapat support dari kekuatan asing, akhirnya perang menjadi besar dan berkepanjangan sampai saat ini. Dan hasil dari perang hanya satu, yaitu kenhancuran, sehingga Syiria yang indah menakjubkan berubah menjadi Syiria yang hancur menakutkan.

Artikel Menarik Lainnya  Memaknai Kebahagiaan dan Kesedihan

Lalu adakah kaitannya dengan Indonesia ?
Mengapa pertanyaan ini muncul ?. Faktornya ialah karena selalu muncul ungkapan “jangan sampai seperti Syiria”. Pesannya tentu bagus, jangan sampai seperti Syiria yang pecah dan hancur. Yang menjadi pertanyaan ialah asbabul wurud, latar belakang historis ungkapan ini muncul. Ungkapan ini tampil saat ada aspirasi yang menyuarakan Islam, agar umat Islam memiliki sedikit kelonggaran mengamalkan ajaran agamanya di negerinya sendiri.

Seolah, jika umat Islam mengamalkan ajaran agamanya, lalu Indonesia akan hancur seperti Syiria. Tentu sebuah imajinasi, karena umat Islam sendiri yang memerdekakan negerinya, mana mungkin ia merusaknya. Tapi logika ini tentulah hanya difahami yang memiliki logika atau memfungsikan logikanya. Sayangnya ini sering diabaikan dalam tanding argumen, sehingga muncul ungkapan “pembenaran”, bukan “kebenaran”.

Dari sini pula muncul ungkapan “mantiko”, dari kata mantik sebagai ilmu berfikir yang benar, saat digunakan sebagai pembenaran yang tidak benar lalu dipelesetkan menjadi mantiko, yang seharusnya mantik. Apakah ada kaitan ini dengan hilangnya mata kuliah Ilmu Mantiq di perguruan tinggi Islam, entahlah.

Jadi tak perlu khawatirlah jika umat Islam mengamalkan ajaran agamanya Indonesia akan hancur seperti Syiria. Ini hanyalah phobia Islam, ibarat membom seekor tikus, bukan tikusnya yang kena atau mati, tetapi rumahnyalah yang hancur berantakan.

Tetapi jika maksudnya jika Syi’ah Indonesia kuat akan bia mengarah konflik seperti Syiria saya setuju, karena memang di mana Syi’ah kuat di situ ia akan mencoba mengambil alih kejuasaan. Jangan Islam non Syi’ah, NKRI pun bisa juga menjadi korban. Ironinya, kekhawatiran ini tidak muncul, sehingga Syi’ah cenderung berkembang walau agak lamban.

Namun perlu direnungkan saran Yusuf Qardhawi dalam suatu dialog Sunni-Syi’i. Katanya, kedua faham ini mustahil dipadukan, maka penyelesaiannya hanya satu, yaitu Syi’ah jangan dikembangkan di kalangan sunni, dan sebaliknya.

Artikel Menarik Lainnya  Jangan Salah Menilai Diri Sendiri

Semoga menjadi renungan sebelum semuanya terlambat

MUHAMMAD SYAFII SARAGIH

Saya Guru dan Dosen, suka Menulis dan Meneliti, sudah Menulis beberapa buku yang terbit di penerbit Mayor. dan mengisi pelatihan baik umum maupun mahasiswa. KontaK Person: 0852 6194 1878

Leave a Reply

Your email address will not be published.