Jagalah Lisan Dari Berkata Kasar

Penulis: Muhammad Syafii Saragih, M.A

Pernah mendengar orang mengeluh pada diri sendiri? ” aduh, hidup kok makin lama makin susah aja!” atau “Pesaingnya berat, kayaknya aku gak mungkin lolos…” atau ada juga orangtua yang tega mengatakan pada anaknya,”Dasar anak bego! Tolol!” Tanpa disadari ucapan mulut negatif ini sama dengan memupuk kutukan pada diri sendiri atau orang lain. Tetapi banyak orang terbiasa dengan mengucapkan kalimat negatif tersebut karena emosi, marah, dan rasa putus asa. Sama halnya dengan ucapan atau perkataan bernada positif, misalnya, “Wah, luar biasa, kamu memang hebat!” atau memperkatakan pada diri sendiri: “Aku pasti berhasil! Orang lain bisa, aku pun pasti bisa!” Ucapan positif seperti ini sama dengan memberikan harapan masa depan yang cerah.

Tanpa disadari bahwa  kata-kata yang keluar dari mulut sesungguhnya memiliki kuasa. Bukan mustahil ucapan tersebut bisa menjadi kenyataan. Oleh karena itu, mulut yang baik adalah mulut yang memperkatakan hal-hal yang optimistis, membangun, dan penuh keyakinan. Menjaga mulut Kita dapat mengukur seseorang melalui lontaran ucapannya yang kerap keluar. Ucapan seseorang bisa jadi cermin dirinya sendiri. Melalui ucapannya akan terlihat bagaimana pola hati dan pikirannya, seperti ucapan yang sembrono sampai ucapan yang dipertimbangkan baik-baik. Akibatnya, melalui ucapannya seseorang akan dibenarkan atau dipersalahkan. Seseorang yang tidak dapat menjaga mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tak bermanfaat, memaki, mencela, menghina, memfitnah, berkata kotor, menghujat. Bahkan, orang yang “lancang mulut” biasanya sok tahu, senang menuding orang lain dan mengurai kekurangan orang tertentu dari segi negatifnya saja. Model seperti ini hanya memicu perselisihan saja.

Islam sendiri sangat melarang seseorang berkata kasar. Sebagaimana hadis Rasulullah Saw yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dalam Sunannya,

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيْءَ

Artinya: “Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat ditimbangan kebaikan seorang mu’min pada hari kiamat seperti akhlaq yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar.” (Hadits Riwayat At Tirmidzi nomor 2002, hadits ini hasan shahih, lafazh ini milik At Tirmidzi, lihat Silsilatul Ahadits Ash Shahihah no 876)

Dalam hadits ini Rasulullah Saw mengaitkan antara akhlak yang mulia dengan lisan yang kasar lagi kotor. Seakan-akan bahwasanya kalau anda ingin menjadi orang yang berakhlak mulia jangan memiliki lisan yang kasar dan kotor.

Oleh karenanya diantara barometer yang paling kuat untuk menilai seorang itu akhlaknya mulia atau tidak adalah dengan melihat lisannya, karena lisan itu ungkapan hati. Sehingga bisa diketahui bagaimana hatinya, kesombongannya atau tawadhu’nya, berbaik sangka atau berburuk sangka, semua bisa terlihat dari lisan, terlihat dari ungkapan-ungkapan lisannya yang mengambarkan dari isi hatinya.

Sebuah penelitian di Universitas Rochester yang diketuai oleh Melanie DeFrank merilis bahwa sering berkata kasar membuat orang terlihat kurang cerdas. Tidak hanya itu, mereka juga kurang disukai dan dinilai lebih agresif. Bahkan bagi yang tidak merasa tersinggung oleh bahasa kotor yang dikeluarkan, mereka tetap memiliki pendapat lebih rendah tentang orang-orang yang sering berkata kasar tersebut.

Menurut Melanie DeFrank, pembicara yang menggunakan kata-kata kasar dan tidak senonoh memiliki peringkat yang lebih buruk pada beberapa aspek, termasuk kesan keseluruhan, kecerdasan, dan kepercayaan.

Meskipun orang yang suka berkata kasar itu cerdas secara akademik, akan tetap dilihat kurang cerdas oleh orang lain. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa antara kecerdasan seseorang dengan bagaimana mereka dinilai oleh orang lain, dapat diubah sepenuhnya pada pilihan kosa kata yang digunakan.

Orang yang suka berkata kasar itu sesungguhnya hatinya yang tidak cerdas. Atau sekarang lebih dikenal dengan EQ (emotional quation). Hatinya masih kotor sehingga dari hatinya itulah keluar kata-kata dan sikap kasar terhadap orang lain. Rasulullah Saw pernah menegaskan bahwa dalam diri manusia itu ada segumpal daging, yang kalau daging itu baik, maka baiklah semua yang tercermin dari seseorang itu, tapi kalau buruk, maka sebaliknya.

أَلآ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلآ وَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya: “Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Untuk itu, kita harus senantiasa tak henti-hentinya untuk terus memperbaiki hati, agar kian hari kian bersih dan indah. Kalau hati ini sudah terhindar dari segala kotoran yang menutup hati dari segala keindahan dan kebaikan, maka apa yang keluar dan tercermin dari diri kita ini adalah kebaikan-kebaikan yang memberikan manfaat bagi orang lain, dan keindahan-keindahan yang menyenangkan mata melihatnya.

Allahu A’lam

 

MUHAMMAD SYAFII SARAGIH

Saya Guru dan Dosen, suka Menulis dan Meneliti, sudah Menulis beberapa buku yang terbit di penerbit Mayor. dan mengisi pelatihan baik umum maupun mahasiswa. KontaK Person: 0852 6194 1878

One thought on “Jagalah Lisan Dari Berkata Kasar

  • 13/12/2020 at 15:56
    Permalink

    Tulisan yang sangat menginspirasi ustaz

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.