Jangan Menilai Orang Lain, Nilailah Diri Sendiri

Penulis: Ayu Ramadhani, S. Pd

Guru & Penggiat Literasi Milenial (Member Komisi Kita)

Kemarin saya baru melihat quotes di instagram yang berupa percakapan antara ayah dan anak. jadi percakapannya itu gini “Nak, ada seorang berprofesi sebagai cleaning service online, saking banyaknya orderan dari rumah ke rumah, dia sampai tidak pernah pulang, kira-kira apa yang terjadi dengan rumahnya sendiri” kemudian sang anak menjawab “wah pasti sangat kotor yah, karena ditinggal terus” lalu ayahnya berkata “Ketahuilah nak, hati adalah rumah bagi jiwa kita, kalau kita sibuk membersih-benarkan perilaku orang lain, kita akan lupa dengan rumah kita sendiri yang semakin hari semakin kotor”.

Setiap manusia pasti pernah melakukan dosa. Setiap manusia pasti pernah khilaf. Setiap manusia pasti memiliki kekurangan. Setiap manusia pasti pernah mengalami lemahnya iman baik dalam waktu lama maupun hanya sekejap mata. Sebab, sejatinya manusia memang tempatnya salah dan lupa. Jadi tidak ada seorang pun yang tidak pernah melakukan kesalahan. Namun, setiap manusia memiliki kesempatan mendapat ampunan bila ia mau bertaubat. Setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, memiliki kesempatan untuk mendekatkan diri padaNya, juga memiliki kesempatan untuk memperkokoh iman dan ketakwaannya.

Terkadang kita lupa akan hal tersebut. Begitu mudah mencari celah dan salah orang lain. Begitu mudah menjudge keburukan dan dosa orang lain tanpa menyadari bahwa dirinya juga memiliki keburukan yang mungkin Allah tutup, tidak menyadari bahwa dirinya juga memiliki dosa atau bahkan mungkin dosanya melebihi orang yang dinilai buruk olehnya.

Tadi pagi saya menerima chat whatsapp dari salah seorang murid waktu PPL. Ia bertanya “bu.. gimana ya bu cara merubah sikap saya yang selalu buruk di mata (pandangan) orang. egois, sombong, angkuh, dan emosian” lalu saya tanya “kamu merasa atau tidak bahwa diri kamu egois, sombong, angkuh, emosian ? atau itu hanya pandangan orang saja ?” kemudian ia menjawab “hanya di mata orang saja bu” lalu saya berkata “terus untuk apa kamu susah payah merubah sikap yang sebenarnya tidak ada di dalam diri kamu ? setiap orang memiliki penilaian yang berbeda. Tidak selamanya penilaian orang lain terhadap kita baik dan benar. Jadi jangan pusing memikirkan penilaian orang lain ya”.

Artikel Menarik Lainnya  Pagi yang Indah, Awali dengan Bismillah

Sebagian orang hari ini memang lebih mudah melihat keburukan, kesalahan, kekurangan dan dosa orang lain daripada melihat keburukan, kesalahan, kekurangan dan dosa yang ada pada dirinya sendiri. Suka lupa kalau dirinya juga makhluk yang bernama manusia. Sebenarnya tidak ada salahnya kita melakukan penilaian terhadap orang lain, namun bukan di ranah akhlak. Kita boleh kok memberi penilaian terhadap orang lain misalnya, dalam bidang akademik si A lebih cerdas daripada si B. namun bila sudah masuk pada ranah akhlak itu bukan hak kita. Kita tidak berhak menilai orang lain buruk dan kita lebih baik darinya. Kita tidak berhak menilai bahwa akhlak si A lebih baik daripada si B. Sekalipun si A terkenal shaleh, adabnya sangat baik sedangkan si B ahli maksiat yang gemarnya itu minum khamr juga berzina. Sebab kita tidak pernah tahu kapan Allah beri hidayah pada si B, kita juga tidak pernah tahu apa yang dilakukan si A ketika sedang sendirian.

Saya pernah baca kisah abang beradik yang memiliki akhlak berbeda. Abangnya sangat shaleh, rajin ke masjid, rajin baca Al Qur’an, ibadah sunnah rutin ia kerjakan, sering I’tikaf di masjid, best of the best lah kan. Sang adik sebaliknya, tidak pernah mau ibadah, hobby nya ke diskotik, mabuk-mabukan, berzina, pokoknya maksiat apa saja sudah ia lakukan. Abangnya selalu menasehati adiknya, tidak selalu mengajak adiknya ke jalan yang benar. Namun sang adik selalu menolak, membangkang bahkan berkata pada abangnya “sudahlah jangan memaksaku untuk ibadah, lebih baik sesekali abang ikut saya ke diskotik” (ini orang disuruh ibadah gak mau malah ngajak abangnya ke diskotik). Hingga suatu hari sang adik ini menyadari semua dosanya dan bertekad untuk bertaubat. Pergilah ia ke masjid dan berharap bertemu abangnya di masjid. Tiba di masjid ia tidak menemukan abangnya. Tubuh yang tidak pernah shalat inipun akhirnya shalat, menangis dan menyesali setiap dosa yang pernah dilakukannya. Di sisi lain sang abang berinisiatif untuk pergi ke diskotik. Ia berpikir bahwa bila nanti ia melakukan dosa maka ia masih bisa bertaubat. Kaki yang selalu melangkah ke masjid inipun akhirnya melangkah ke tempat maksiat. Ketika ia di diskotik kebaikan tidak berpihak padanya sebab salah satu arus listrik yang ada di diskotik tersebut korslet sehingga menyebabkan kebakaran dan abangnya wafat dalam keadaan bermaksiat. Anggapannya bahwa ia dapat bertaubat ketika bermaksiat ternyata salah sebab maut menghampirinya ketika ia melakukan maksiat. Yah, jadi itu sedikit kisah, saya lupa itu kisah nyata atau hanya cerita pendek yang dibuat dengan tujuan memberi kesadaran pada orang lain supaya tidak mudah menilai keburukan orang lain dan memanfaatkan waktu dengan hal-hal baik yang diridhai Allah sehingga bila malaikat maut siap mencabut nyawa kita, kita kembali dalam keadaan berbuat baik.

Artikel Menarik Lainnya  TEOLOGI MERDEKA; REFLEKSI 76 TAHUN INDONESIA MERDEKA

Jadi, yuk biasakan diri untuk lebih sering muhasabah sehingga tidak mudah mengoreksi kesalahan orang lain. Sebab, semakin sering kita mengoreksi kesalahan dan kekurangan orang lain, semakin subur pula benih sombong di dalam hati kita.
Allahu A’lam

MUHAMMAD SYAFII SARAGIH

Saya Guru dan Dosen, suka Menulis dan Meneliti, sudah Menulis beberapa buku yang terbit di penerbit Mayor. dan mengisi pelatihan baik umum maupun mahasiswa. KontaK Person: 0852 6194 1878

Leave a Reply

Your email address will not be published.