Kita Bukan Penjual Cermin Keliling

Penulis    : Ayu Ramadhani, S.Pd

Profesi    : Pendidik

 

Tidak asing lagi bagi kita bila ada orang yang begitu detail menilai keburukan orang lain, mencela, bahkan menjadikan bahan ghibah mereka. Hal tersebut sudah seperti tradisi bagi orang-orang tertentu. Cukup mengherankan memang, seolah yang membicarakan keburukan adalah orang yang paling sempurna nan mulia.  Namun, sebagian orang yang menjadi bahan celaan sekaligus ghibah tidak mempermasalahkan hal tersebut selama yang mereka bicarakan tidak didengar langsung olehnya.

Ada pula orang yang sukanya menjudge langsung. Kalau sudah menilai kesalahan dan keburukan orang lain beuh lancar banget lisannya melebihi jalan tol sehingga lupa dengan salah dan keburukannya sendiri. Misal nih “kamu ini jadi orang kok bodoh banget sih ? kok bandal banget sih ? Kok bisanya buat salah melulu sih ? Kok gak tau bersyukur sih ? Kamu ini memang orang yang gak punya otak dan hati” Dan kalimat sejenisnya. Padahal kenyataannya tidak demikian bahkan yang diucapkan itu justru yang ada pada dirinya sendiri.  Ada tuh peribahasanya “semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak”. Begitulah sebagian manusia, kesalahan kecil orang lain terlihat begitu jelas, namun kesalahan sendiri yang berkali lipat lebih besar tidak terlihat sedikitpun.

Bagus sih menunjukkan kesalahan dan keburukan orang lain sehingga dapat dijadikan acuan baginya untuk memperbaiki diri. Namun, bukan berarti kita bisa semena-mena memandangnya hanya dengan kacamata keburukan, tidak adil bila kita hanya menilai sisi negatifnya secara berlebihan dan lupa menilai sisi negatif yang ada pada diri kita, lupa melihat kesalahan dan keburukan kita. Hal tersebut dapat mengotori hati kita. Kenapa ? Jelas saja bila hal tersebut sudah menjadi karakter kita otomatis hati kita terisi dengan “sombong sekaligus takabur”. Bahaya kan bila hati kita sudah terisi dengan penyakit hati seperti itu ?

Artikel Menarik Lainnya  Jagalah Lisan Dari Berkata Kasar

Boleh kok memberikan cermin pada orang lain supaya mereka memperbaiki apa yang salah dan kurang dari diri mereka. Tapi jangan lupa kita juga perlu cermin tersebut untuk melihat apa yang salah dan kurang dari diri kita. Jangan kita menjadi pembawa cermin bagi orang lain,, pasti berat banget tuh membawa cermin besar untuk orang lain. Dan harus diingat kita bukan penjual cermin keliling.

Silahkan tunjukkan kesalahan, keburukan dan kekurangan orang lain dengan tujuan agar mereka memperbaikinya, disampaikan dengan adab yang baik sebagaimana yang telah dicontohkan baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Dan jangan sampai lupa untuk melihat ke dalam diri,, apa yang salah, apa yang buruk, apa yang kurang.. muhasabah lah, perbaiki apa yang perlu diperbaiki, pertahankan apa yang harus dipertahankan, tingkatkan apa yang harus ditingkatkan. In Syaa Allah diri kita senantiasa baik dan baru dari hari ke hari. Begitu pula dengan orang lain, mereka memperbaiki dirinya, melaksanakan nasehat dan masukan-masukan baik dari kita dengan hati ridha.

 

Wallahu a’lam…

MUHAMMAD SYAFII SARAGIH

Saya Guru dan Dosen, suka Menulis dan Meneliti, sudah Menulis beberapa buku yang terbit di penerbit Mayor. dan mengisi pelatihan baik umum maupun mahasiswa. KontaK Person: 0852 6194 1878

Leave a Reply

Your email address will not be published.