Konsep Belajar Dalam Islam

Penulis: Muhammad Syafii Saragih, M.A

Islam sebagai agama rahmah li al-‘alamin sangat mewajibkan umatnya untuk selalu belajar, bahkan Allah mengawali menurunkan al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia dengan ayat yang memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad Saw., untuk membaca dan membaca (iqra’). Iqra’merupakan salah satu perwujudan dari aktifitas belajar. Sedangkan dalam arti luas, dengan iqra’ pula manusia dapat mengembangkan pengetahuan dan memperbaiki kehidupannya.[1]

Islam menggambarkan belajar dengan bertolak dari Firman Allah Q.S An-Nahl: 78:

Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”[2]

Selanjutnya firman Allah dalam Q.S. ar.Ra’d: 11;

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekalikali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”[3]

Ayat di atas menegaskan bahwa belajar merupakan proses yang dilalui manusia selama manusia hidup. Perbedaan manusia dengan binatang ialah manusia memiliki akal pikiran dan budi pekerti yang dapat digunakan untuk berpikir, sehingga manusia memiliki cita-cita dan tujuan hidup. Kemajuan dan kemunduran manusia sangat tergantung manusia itu sendiri, apakah ia mau berusaha untuk maju atau tidak.[4]

Belajar menurut konsep Islam adalah melatih, menggunakan, memfungsikan serta mengoptimalkan fungsi macam-macam alat (indera luar dan dalam) yang telah dianugerahkan oleh Allah secara integral dalam pelbagai aspek kehidupan sebagai manifestasi dari rasa syukur kepada-Nya.[5]

Perlu diketahui bahwa setiap apa yang diperintahkan Allah untuk dikerjakan, pasti dibaliknya terkandung hikmah atau sesuatu yang penting bagi manusia. Demikian juga dengan perintah untuk belajar. Beberapa hal penting yang berkaitan dengan belajar, antara lain;[6]

  1. Bahwa orang yang belajar akan dapat memiliki ilmu pengetahuan yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupan. Sehingga dengan ilmu pengetahuan yang didapatkannya itu manusia akan dapat mempertahankan kehidupan.[7]
  2. Allah melarang manusia untuk tidak mengetahui segala sesuatu yang manusia lakukan. Apa pun yang dilakukan, manusia harus mengetahui kenapa mereka melakukannya. Dengan belajar manusia dapat mengetahui apa yang dilakukan dan memahami tujuan dari segala perbuatannya. Selain itu dengan belajar pula manusia akan memiliki ilmu pengetahuan dan terhindar dari taqlid buta, karena setiap apa yang kita perbuat akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.[8]

Seseorang dapat dikatakan berhasil dalam belajarnya jika mampu mencapai derajat ulul albab. Firman Allah;

  1. Q.S. al-Baqarah: 269

Artinya: “ Allah menganugerahkan Al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”[9]

 Q.S. Yusuf: 111

Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”[10]

 Q.S. Ali Imran: 7

Artinya: “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”[11]

dan banyak lagi ayat Al-Qur’an yang menunjukkan bagaimana seharusnya hasil dari suatu proses belajar itu, yang antara lain terdapat dalam Q.S. ali-Imran: 190-191 yang menceritakan bagaimana sikap yang harus ditempuh yaitu suatu sikap bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, diantaranya adalah merenungkan, memikirkan, meneliti, memahami dan mengambil pelajaran terhadap ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun di bumi.

Selanjutnya sikap dan hasil lain yang ditimbulkan dari belajar adalah seseorang mampu memisahkan mana yang baik dan yang jelek, kemudian dia memilih yang baik, meskipun dia harus sendirian mempertahankan kebaikan itu, dan walaupun kejelekan itu dipertahankan oleh sekian banyak orang. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Maidah: 100;

Artinya: “Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.”[12]

 Dari beberapa ayat yang dikemukakan di atas, dapat diperoleh suatu kesimpulan bahwa tujuan umum belajar menurut Islam adalah “terpadunya iman, ilmu, dan amal seseorang”. Optimalisasi dari hal-hal tersebut terwujud dalam karakteristik penampilan dirinya serta kepribadiannya yang mengimani Islam secara mantap dengan dilandasi oleh ilmu Islam, dan mampu mengaktualisasikan ilmunya selaras dengan nilai-nilai iman, serta senantiasa mengamalkan Islam dalam pelbagai aspek kehidupannya, mendakwahkan Islam dalam berbagai bidang, dan tetap teguh dan istiqamah dan sabar dalam ber-Islam.[13]

[1] Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan pembelajaran, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), h. 29

[2] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, ( Bandung: CV. Jumanatul ‘Ali-Art), h. 543

[3] Ibid, h. 250

[4] Sutiah, Buku Ajar Teori Belajar dan pembelajaran (Malang: Universitas Negeri Malang. 2003), h. 20

[5] Sjahminan Zaini dan Muhaimin, Belajar Sebagai Sarana Pengembangan Fitrah Manusia (Sebuah Tinjauan Psikologi). (Jakarta: Kalam Mulia, 1991), h. 9

[6] Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan pembelajaran…, h. 32-33

[7] Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. az-Zumar: 9, yang artinya;“(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orangorang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”

[8] Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Isra’: 36, yang artinya adalah: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

[9] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya…, h. 45

[10] Ibid, h. 248

[11] Ibid, h. 50

[12] Ibid, h. 124

[13] Sjahminan Zaini dan Muhaimin, Belajar Sebagai Sarana Pengembangan…, h. 67

MUHAMMAD SYAFII SARAGIH

Saya Guru dan Dosen, suka Menulis dan Meneliti, sudah Menulis beberapa buku yang terbit di penerbit Mayor. dan mengisi pelatihan baik umum maupun mahasiswa. KontaK Person: 0852 6194 1878

Leave a Reply

Your email address will not be published.