Memaknai Kebahagiaan dan Kesedihan

Penulis                  : Ayu Ramadhani, S.Pd

Profesi                  : Pendidik

       Sebagian orang beranggapan bahwa rasa suka itu lebih besar daripada duka. Kebahagiaan itu lebih besar daripada kesedihan. Sebagian orang beranggapan bahwa rasa duka lebih besar daripada rasa suka. Kesedihan itu lebih besar daripada kebahagiaan. Setiap orang memiliki anggapan yang berbeda tergantung perasaan dan cara berpikirnya memandang suka dan duka. Sebagian orang yang beranggapan bahwa rasa suka dan kebahagiaan lebih banyak daripada duka dan kesedihan ada dua kemungkinan. Yang pertama, karna memang ia sedang diselimuti oleh kebahagiaan dan suka cita. Segala yang ia harapkan Allah berikan padanya dan ia bersyukur atasnya. Yang kedua, sebab ketika kesedihan dan duka cita menghampiirinya ia bersabar dan menjalaninya dengan hati lapang. Ridha dengan apapun kehendak Allah yang bertentangan dengan hati dan inginnya. Selain itu ia juga tidak memberi label duka cita dan kesedihan sebagai duka cita, kesedihan, penderitaan dan sejenisnya melainkan member makna untuk setiap duka cita, kesedihan maupun pederitaan. Seorang ilmuan Barat yang bernama Friedrich Nietzsche berpendapat bahwa “To live is to suffer, to survive is to find some meaning in the suffering (Hidup adalah penderitaan, cara agar tidak menderita dengan menemukan makna di setiap penderitaan)”. Ini dapat diartikan juga sebagai “menemukan hikmah”. Setiap ujian, kesedihan, duka cita, dan segala hal yang bertentangan dengan keinginan dan harapan kita pasti ada hikmahnya. Dan Dr.Fahruddin Faiz, M.Ag memberi contoh “mahasiswa yang tidak lulus-lulus jangan dibilang gak lulus lulus nanti ia makin stress, namun beri saja makna mahasiswa yang diberi kesempatan belajar lebih banyak lagi, mahasiswa yang diberi kesempatan belajar lebih lama lagi”.

         Sedangkan orang yang beranggapan bahwa kesedihan dan duka cita lebih besar daripada kebahagian dan suka cita juga ada dua kemungkinan. Yang pertama, sebab ketika Allah beri kebahagiaan, memberi  apa yang ia harapkan  ia selalu  lupa untuk bersyukur dan  selalu merasa kurang. Nah hal ini terkadang yang memancing mereka untuk berbuat curang, melakukan hal yang dilarang Allah, menghalalkan segala cara untuk memuaskan nafsu duniawinya. Mari kita perhatikan para koruptor, mungkin mereka terlihat selalu bahagia dan dipenuhi rasa suka cita. Namun percayalah hati dan jiwa mereka selalu merasakan duka cita, kesedihan dan rasa bersalah. Mengapa ? sebab itu naluri manusia. Perhatikan diri kita ketika melakukan kesalahan baik kecil maupun besar pasti kita tidak akan merasa nyaman. Bener gak ? yah begitu juga dengan mereka. Lalu mengapa mereka tidak jera ? ya karna mereka tidak pernah  bersyukur dan selalu merasa kurang. Mari kita perhatikan lagi orang-orang terkenal dan terlihat sangat kaya raya yang terjerat kasus Narkoba. Kalau kita pikir-pikir, untuk apa sih ? mereka uda punya segala yang mereka butuhkan bukan ? tetap sama jawabannya, hati dan jiwa mereka selalu merasakan duka cita, kesedihan dan tidak tenang. Mengapa ? sebab mereka tidak bersyukur dan melupakan Sang Pemberi nikmat, mereka lupa pada Sang Pemilik Segalanya sehingga mereka mencari ketenangan dengan cara mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan pastinya haram. Kemungkinan yang kedua, sebab ia benar-benar sedang merasakan kesedihan dan duka cita baik ketika segala yang terjadi tidak sesuai harapannya maupun ketika kehilangan sesuatu atau orang yang berharga baginya. Biasanya dalam kondisi itu orang-orang seperti ini  begitu terpuruk, seolah dunia runtuh. Selain itu pikiran negative dan prasangka buruk menguasai dirinya sehingga tidak ada hal indah dan kebahagiaan dalam hidupnya yang dapat ia lihat. Semua nikmat Allah seolah hilang begitu saja. Juga menganggap dirinya sebagai orang yang paling menderita. Sering kita mendengar orang meninggal bunuh diri dengan berbagai alasan, baik karna putus cinta, nama baiknya yang jelek dan hancur, dan alasan lainnya. Terus kadang kita mikir tuh kan, ya ampun hanya karna putus cinta saja bunuh diri padahal di dunia ini masih begitu banyak laki-laki/perempuan. Yah itulah akibat fatal bila kita terlalu terpuruk meratapi kesedihan dan duka cita. Diri yang sudah dikuasai oleh hal-hal negative (lebih tepatnya sudah masuk ke perangkap iblis) akan sulit untuk berpikir jernih. Sebagian mereka ingat Tuhan sih (kecuali ateis), namun ingatannya tentang Tuhan juga sudah negative. Prasangkanya pada Tuhan juga sudah buruk. Jadi jalan yang mereka pilih pun di luar akal sehat.

         Allah dengan sifatNya Yang Maha Adil telah memberi suka dan duka secara seimbang. Tidak mungkin Allah memberi suka melebihi duka begitu juga sebaliknya sebab bila ada yang berat sebelah itu bukan sifat Allah melainkan sifat manusia. Manusia yang suka membuatnya berat sebelah, manusia yang suka meletakkannya tidak pada tempatnya.

            Kita juga harus ingat bahwa suka dan duka ibarat lelaki dan perempuan. Yakni berpasangan. Kita tidak dapat menafikkan bahwa kehidupan ini hanya ada suka atau hanya ada duka. Sebab suka dan  duka itu soulmate. Ketika suka hadir maka duka juga akan hadir, baik dalam waktu yang bersamaan maupun tidak. Namun yang pasti keduanya pasti hadir bertamu di kehidupan kita. Sambutlah mereka dengan baik. Jangan berlebihan pula menyikapinya. Allah tidak suka segala sesuatu yang berlebihan.

           Apabila kesedihan dan duka cita sedang hadir ingatlah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Q.S.At Taubah ayat 40

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِىَ ٱلْعُلْيَا ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴿٤٠﴾

Artinya: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

          Dan apabila kebahagiaan dan suka cita sedang menghampiri kita karna keinginan dan harapan kita atau apapun itu. Jangan lalai dan terlena sebab kebahagiaan dunia yang kita peroleh tidak kekal, ingatlah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Q.S.An Nahl ayat 96

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُوٓا۟ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ﴿٩٦﴾

Artinya: “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Wallahu A’lam

MUHAMMAD SYAFII SARAGIH

Saya Guru dan Dosen, suka Menulis dan Meneliti, sudah Menulis beberapa buku yang terbit di penerbit Mayor. dan mengisi pelatihan baik umum maupun mahasiswa. KontaK Person: 0852 6194 1878

Leave a Reply

Your email address will not be published.