Membangun Komunikasi Yang Harmonis dengan Anak Ala Rasulullah Saw

Penulis: Muhammad Syafii Saragih, M.A

Dosen & Pendidik di Pesantren Modern Al Barokah Simalungun 

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist yang di riwayatkan oleh Ibnu Majah

Artinya: “Hormatilah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka”

Dari hadis ini dapat kita simpulkan bahwa anak itu harus dihormati sekalipun umurnya jauh di bawah kita. Selaku orang tua, harus berusaha untuk senantiasa menghormati hak, keinginan, dan pendapat mereka. Karena bisa jadi ketika kita terlalu sering mengabaikan pendapat, pandangan, dan  perasaan mereka, membuat mereka pun merasa tidak perlu untuk menghargai harapan dan keinginan orang lain khususnya kita. Maka hal ini harus diperbaiki terlebih dahulu.

Kita harus memastikan hak-hak mereka telah terpenuhi, sehingga hubungan yang baik diantara kita akan membuka jalan bagi kita untuk bisa berkomunikasi secara efektif kepada anak anak. Bila hubungan kita dengan anak anak retak atau renggang, teknik komunikasi sebaik apapun yang kita kuasai tidak akan berhasil mencapai tujuan.

Interaksi antara orang tua dan anak adalah soal hubungan. Apakah juga hubugan antara manusia dengan Tuhan, alam, dan manusia, dengan tetangga, guru dan murid, bahkan hubungan antara orang dengan dirinya sendiri.

Harmonis, indah, menyenangkan, bermanfaat, kasih sayang, adalah suasana positif dari sebuah hubungan yang baik. Sebaliknya, apatis, permusuhan, dendam, kedengkian, jarak, adalah suasana dari sebuah hubungan yang nggak baik. Terus, apa faktornya?, Bagaimana hubungan bisa jadi baik agar tercipta suasana yang harmonis?

Ketulusan. Itu kata kuncinya. Tuluslah menjadi anak, orang tua, guru, murid, pemerintah, rakyat, dan tuluslah menjadi diri sendiri.

Dengan ketulusan, kita menciptakan hubungan dan interaksi yang indah dan harmonis. Dengan ketulusan kita menciptakan asa, tata, cita bahkan surga. Dengan ketulusan, kita menciptakan hubungan hati, bukan sekedar indera. Dengan begitu, yang jauh di hati dekat di mata, bisa jadi sebaliknya.

Berikut ini beberapa tips bagaimana menjalin komunikasi dengan anak agar terjadi hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak.

  1. Komunikasi Tanpa Berbicara

Belajar dari cara Rasulullah Saw berkomunikasi dalam shirah, yang pertama Rasulullah Saw berkomunikasi dengan tanpa komunikasi. Sebagai contoh Ibnu Abbas pernah berkata bahwa beliau menginap dirumah bibinya, Maimunah. Kemudian Rasulullah biasa bangun untuk shalat malam suatu malam. Rasulullah Saw bangun kemudian berwudhu dengan wudhu yang ringan dari kendi yang digantung.

Setelah itu Rasulullah Saw shalat. Kemudian Ibnu Abbas berwudhu dengan wudhu yang sama seperti Rasulullah Saw lakukan. Kemudian beliau berdiri disamping kiri Rasulullah Saw.  Rasulullah kemudian menarik Ibnu Abbas dan meletakkannya disamping kanannya. Kemudian Rasulullah Saw shalat beberapa rakaat.

Disini kita bisa melihat bagaimana Rasulullah berkomunikasi dengan tanpa komunikasi tetapi langsung memberikan teladan. Jadi ada kalanya komunikasi kita lebih efektif ketika langsung memberikan contoh.

Contoh lain, kalau kita ingin anak rajin shalat ke masjid, jangan pernah memerintah anak tanpa kita dahulu yang mengerjakannya. Terkadang kita tak perlu berkata kepada anak untuk pergi ke Masjid, tapi tarik tangan anak untuk berwudhu dan ajak ia ke masjid bersama kita. InsyaAllah ini akan jauh lebih efektif.

 

  1. Fokuslah pada Pembimbingan Anak Bukan pada Kesalahannya

Orang tua dalam hal ini harus lebih mengedepankan ajakan bukan kesalahan. Maksudnya jika anak membuat satu kesalahan jangan sampai anak dimarah terus menerus dan selalu mengungkit-ungkit kesalahannya secara terus menerus. Cukup berikan ia pengertian bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan dengan cara yang tegas namun tetap tidak menghilangkan nuansa kelembutan dan kasih sayang.

Atau ketika sedang memberikan suatu pekerjaan kepada anak, kemudian ia melakukan kesalahan, maka hindari memarahinya apalagi secara terus menerus, tetapi bila anak terlihat kesulitan akan pekerjaannya tersebut, maka segera beri contoh kepada anak cara yang benar. Misalnya, ketika anak disuruh untuk mencuci piring, namun apa yang dikerjakan anak justeru menjadi berantakan, apakah air yang melimpah, atau piring yang masih bersabun, atau barangkali juga ada gelas yang pecah, maka jangan memarahinya, tapi ajarkan ia bagaimana mencuci piring yang benar dan hati-hati sehingga tidak ada kesalahan fatal. Jika ini dilakukan terus oleh orang tua, maka ke depannya anak akan belajar tentang banyak hal dari orang tuanya, apakah itu tentang ketelitian, kewaspadaan, dan sebagainya.

Artikel Menarik Lainnya  SANTRI MADRASAH ALIYAH AL BAROKAH LULUS PTN DAN TIMUR TENGAH

Banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran berharga dari Rasulullah Saw, bagaimana Rasulullah Saw memberikan contoh dalam melatih skill seorang anak dengan cara memberikan contoh yang benar dan tidak fokus membahas kesalahan anak.

Suatu ketika ada seorang anak yang belum mahir menguliti kambing. Rasulullah Saw tidak fokus membahas kenapa ia tidak melakukan dengan cara yang baik. Tetapi di hadapan anak tersebut Rasulullah Saw langsung menunjukkan cara bagaimana menguliti kambing yang benar.

Dalam berkomunikasi, kita juga perlu melihat latar belakang seorang anak ketika ia bersikap di luar harapan kita. Bisa jadi bukan karena ia bermaksud melakukan kesalahan, tetapi karena ia belum tahu atau belum mahir melakukannya. Seringkali orang tua menaruh ekspektasi yang sangat tinggi. Berharap anak sudah mampu melakukan, padahal terkadang orang tua lupa bahwa apa yang diminta anak untuk melakukannya tersebut sebenarnya maish di atas batas kemampuannya, namun orang tua sudah menganggapnya mampu dan kurang membimbingnya.

Sehingga ekspektasi ini mendorong kita melakukan komunikasi menyimpang yang membuat anak semakin merasa tidak nyaman berhadapan dengan kita.

Maka sebaiknya fokus kita adalah memberikan contoh, memberitahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Sehingga tidak perlu membangun komunikasi yang lebih banyak membahas kesalahan. Apalagi bila komunikasi ini didasari oleh rasa kesal kita. Sehingga membahas kesalahan menjadi kesempatan untuk meluapkan emosi-emosi negatif kita. Ketika kita melihat anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan prosedur atau tidak sesuai dengan harapan kita.

Terlebih lagi, banyak orang tua yang sebenarnya memiliki permasalahan di luar permasalahan anak, namun menjadikan kesalahan anak sebagai kesempatan meluapkan emosi negatif tersebut.

 

  1. Menarik Perhatian Anak Sebelum Menyampaikan Pesan

Satu hal yang amat penting ketika hendak membangun komunikasi langsung dengan anak adalah menarik perhatiannya terlebih dahulu, agar anak fokus dan bisa menerima pesan dengan baik. Sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw ketika suatu hari Rasulullah Saw mendekati dan menyapa seorang anak yang sedang bersedih karena burung pipitnya mati. Kemudian Rasulullah menarik perhatian dengan menyapa anak tersebut.

“Wahai Abu Umair ada apa dengan burung pipitmu?” Rasulullah Saw bertanya bagaimana kabar burung pipitnya. Dari kisah ini kita belajar bahwa Rasulullah SAW berusaha menarik perhatian lawan bicara, sebelum kemudian menyampaikan isi pesan yang hendak dikomunikasikan. Rasulullah Saw berusaha menghargai perasaan lawan bicaranya. Terkadang ketika kita menyampaikan sesuatu, kita berteriak-teriak dari dalam kamar. Sementara kita tidak mengundang anak untuk terlebih dahulu memperhatikan kita sehingga ia bersedia memberhentikan aktifitasnya untuk mau mendengar pesan kita.

Apabila anak tidak mendengar pesan kita, barangkali karena kita sendiri yang langsung memberikan pesan tanpa membuat lingkungan yang kondusif agar anak mau dan mampu berkonsentrasi pada apa yang kita sampaikan.

Bisa jadi saat kita berbicara, anak sedang asik dengan mainannya atau dengan pekerjaan lainnya. Sehingga ketika kita berbicara kepadanya, anak belum fokus dan belum mempersiapkan diri untuk memahami pesan-pesan kita.

Belajar dari kisah Rasulullah Saw, kita perlu memperbaiki teknik komunikasi dengan cara bebicara secara langsung dan berhadap-hadapan. Gunakan sentuhan lembut yang membuat mereka dapat memusatkan perhatian kepada kita. Insya Allah akan lebih baik dibanding kita berkomunikasi berteriak-teriak dari tempat jauh. Apabila kita berada dalam keadaan yang sulit untuk mendekati anak, seperti sedang berbaring menyusui, atau ada pekerjaan lain yang menyulitkan, maka panggil dulu anak tersebut atau minta seseorang yang lebih dekat untuk memanggilkan anak tersebut.

Artikel Menarik Lainnya  MERAIH KEMERDEKAAN LAHIRIYAH DAN BATHINIYAH

Kemudian, hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua maupun guru adalah momen menyampaikan pesan. Karena situasi dan kondisi sangat mempengaruhi seseorang untuk bisa lebih baik menangkap pesan yang disampaikan.

Ambillah waktu khusus untuk berbicara dengan anak pada waktu-waktu yang dianggap baik dan khidmat. Misalnya waktu selesai maghrib. Setelah mengajari mereka mengaji, ajaklah mereka bercerita tentang banyak hal. Terutama cerita sesuatu yang mengandung nilai-nilai akhlak. Jangan bahas kesalahan-kesalahan mereka, namun sesekali pujilah apa yang sudah mereka lakukan. Pada saat itu, anak sangat siap untuk menerima pesan-pesan yang akan kita sampaikan, sebab momennya cukup baik dimana waktu itu biasanya adalah waktu santai yang cocok untuk kumpul bersama dengan keluarga.

Jangan memberi nasehat kepada anak pada waktu terlalu malam, dikhawatirkan ia akan mengantuk dan tidak dapat menerima pesan dengan baik. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan pesan singkat ke telinganya ketika anak sudah berbaring hendak tidur. Setelah membaca doa dan beberapa ayat, bisikkan ke telinga anak misalnya dengan kalimat-kalimat, “Alhamdulillah hari ini abang sudah jadi anak yang baik dan hebat”, “Terimakasih kakak hebat, besok subuhnya pasti lebih awal”, dan masih banyak kalimat positif lainnya yang bisa disampaikan pada momen tersebut. Sambil kemudian memberikan kecupan hangat di kening atau pipi anak.

Dengan komunikasi seperti ini, maka anak akan merasa sangat dihargai, merasa nyaman, merasa bahwa orang tuanya adalah hero dan panutan baginya yang wajib dicontohnya. Ia tidak akan mencari prototipe lain yang menjadi idolanya, sebab baginya orang tuanya adalah pahlawan segala-galanya.

 

  1. Buka Pembicaraan dengan Mengajukan Pertanyaan Terlebih Dahulu

Cara ini juga sangat efektif terutama untuk menarik perhatian dan membangun komunikasi langsung dengan anak. Sebab, ketika kita mengajukan pertanyaan terlebih dahulu, anak akan langsung merespon. Cara ini sering dilakukan Rasulullah Saw kepada para sahabatnya ketika ingin menyampaikan pesan. Misalnya, Rasulullah Saw pernah mengajukan pertanyaan kepada para sahabat untuk membuka sebuah diskusi. “Maukah aku memberitahukan tentang orang yang masuk surga?”, Rasulullah juga pernah bertanya terlebih dahulu tentang amalan yang mulia, “Apakah kalian mau aku tunjukkan amalan yang paling mulia?”, dan seterusnya.

Mengapa cara ini terbilang efektif?, karena pertanyaan itu sebenarnya menjadi sebuah stimulus yang memancing respon pendengarnya. Apalagi pertanyaan yang diajukan unik, sesuatu yang belum pernah didengar, atau sesuatu yang sedang viral menjadi perbincangan.

Anak-anak biasanya senang dengan pertanyaan yang mereka belum tahu atau belum pernah didengar. Karena anak salah satu karakter anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (curious).

Kita dapat melihat dalam banyak hadist bahwa Rasulullah Saw menyampaikan suatu pesan dengan cara bertanya terlebih dahulu kepada para sahabat. Dengan pertanyaan pembuka, orang yang diajak komunikasi diharapkan dapat memusatkan pikirannya. Bahkan secara aktif berusaha untuk mencari jawaban. Tentunya pesan akan lebih terinternalisasi dalam diri anak ketika jawaban itu hadir dari proses berpikir seorang anak dibanding ketika mereka mendengar pesan dari kita. Kita hanya tinggal menyatakan persetujuan atau meluruskan jawaban yang disampaikan oleh anak. Jadi dalam membangun komunikasi, terlebih saat akan memberikan pesan yang sangat penting kepada anak, buatlah waktu khusus untuk berkomunikasi dengan mereka. Tinggalkan sejenak pekerjaan kita dan duduklah bersama dalam suana yang nyaman. Mulailah dengan mengajukan pertanyaan terlebih dahulu serta hargailah setiap jawaban anak.

  1. Carilah Motif dibalik Perbuatan Anak

Suatu hari sahabat dari kaum Ansor melaporkan perbuatan seorang anak kepada Rasulullah Saw. Anak ini dilaporkan karena sering sekali melempari pohon kurma dengan batu. Mungkin sering sekali emosi kita membuat kita langsung menghakimi seorang anak, menyalahkan seorang anak yang melakukan sesuatu diluar harapan kita. Tetapi Rasulullah Saw mengajarkan untuk bersabar. Rasulullah Saw berjongkok agar setara dengan tinggi anak tersebut. Kemudian beliau bertanya “Wahai anakku kenapa engkau melempari kurma?” Rasulullah Saw bersabar menunggu jawaban anak tersebut dan ia menjawab “Untuk aku makan”.

Artikel Menarik Lainnya  TEOLOGI MERDEKA; REFLEKSI 76 TAHUN INDONESIA MERDEKA

Mari kita perhatikan, betapa Rasulullah Saw, dalam kasus ini mengedapankan kelembutan. Mendapatkan laporan tersebut, Rasulullah Saw tidak marah dan tidak menghakimi anak itu. Tetapi beliau menyelami apa yang membuat anak itu melempari dan mengambil buah kurma yang bukan miliknya. Betapa indahnya akhlak yang ditampilkan oleh Rasulullah Saw kepada anak-anak.

Terkadang berbalik dengan apa yang terjadi pada kita. Ketika mungkin orang lain melaporkan anak kita memukul atau mencuri sesuatu, kita langsung memarahi anak, menghakiminya, dan bahkan terkadang kita menghukumnya dengan sesuatu yang sesungguhnya tidak layak baginya. Benar, anak kita memang salah dan tentu ia tidak boleh mengulangi perbuatannya itu, sebab kita takut kalau kelak akan menjadi kebiasaannya. Tetapi, bukan seperti ini caranya. Rasulullah Saw panutan kita, sudah memberikan contohnya bagaimana kita menyikapi kejadian seperti itu.

Selamilah terlebih dahulu motif dibalik perbuatan anak. Kenapa anak kita misalnya mengambil mainan temannya, atau memukul temannya, atau usil pada temannya?, selami lebih dalam dan salah satu cara yang dapat dilakukan adalah gali darinya kenapa ia melakukan itu, tapi ingat, jangan bertanya sambil marah-marah apalagi memaki. Rengkuh tubuhnya, usap kepalanya, bila perlu sambil kecup keningnya, jongkoklah sehingga setara dengannya, “kenapa kau lakukan itu nak?”..insya Allah kita akan menemukan jalan keluarnya.

 

  1. Barengi Nasihat Dengan Doa

Kisah diatas berlanjut, Rasulullah Saw mengakhiri pesan kepada sang anak dengan mengusap kepala anak tersebut dan mendoakan “Ya Allah kenyangkanlah perutnya”

Dari kisah ini kita belajar bahwa dalam menyampaikan harapan, jangan lupa untuk melibatkan Allah. Ketika kita sudah berikhtiar meluruskan perilaku anak, memberitahu apa yang tidak boleh, mengarahkan apa yang seharusnya yang ia lakukan, jangan lupa doakan mereka. Hanya Allah yang mengenggam hati anak-anak untuk menerima nasihat kita. Allah yang mengendalikan manusia agar mampu melaksanakan aturan. Doakanlah apa yang menjadi harapan. Alihkan kemarahan kita menjadi doa-doa terbaik bagi mereka.

Ketika kita melihat anak kita rewel, doakanlah “Ada apa anak sabar?” Ketika kita melihat barang-barang anak kita berserakan, doakanlah “Anak sholih, anak yang rapi, tolong bereskan ini dan bereskan itu” Ketika kita melihat sikap mereka yang kurang tertib di tempat umum, doakanlah “Anak sholih, anak tertib, kita menunggu dan duduk disini ya” Ketika kita mendapati anak kita mengamuk mempertahankan keinginannya, doakanlah “Ya Allah jadikan ia pemimpin sholih yang adil”. Doakanlah apa yang menjadi harapan kita terhadap mereka. Ketika semua ikhtiar telah kita lakukan, terlebih bila semua ikhtiar itu belum menunjukkan hasil, maka teruslah dan tetaplah berdoa mohon kepada Allah Swt agar Dia membimbing kita dan keluarga kita.

Ketika kita dalam keadaan marah dan jengkel, lampiaskan saja pada kata-kata yang mengandung doa yang baik untuk anak kita. Toh, ketika anak menjadi anak saleh kita sebagai orang tua juga yang akan memetik hasilnya di dunai dan akherat.

Mengapa harus dibarengi dengan doa?, karena doa adalah bentuk harapan kita yang kita tujukan satu-satunya kepada Allah Swt sang pemegang kehidupan ini. Apapun yang kita usahakan, jangan pernah terlepas dari doa kepada-Nya. Karena dengan doa itulah kita akan senantiasa ingat bahwa kita ini tidak ada apa-apanya, bahwa kita ini adalah sekedar makhluk ciptaan Allah Swt yang jika tidak karena rahmat-Nya, maka kita tidak akan mampu berbuat apapun.

Berdoalah di setiap waktu untuk kebaikan keluarga, isteri, suami, dan anak-anak kita. Karena dengan doa yang terus menerus kita panjatkan kepada-Nya, maka Allah Swt akan mendengar dan akan menjaga keluarga kita dari segala apa yang tidak kita inginkan. Dan Allah akan membimbing kita kepada segala sesuatu yang kita harapkan.

Allahu A’lam

MUHAMMAD SYAFII SARAGIH

Saya Guru dan Dosen, suka Menulis dan Meneliti, sudah Menulis beberapa buku yang terbit di penerbit Mayor. dan mengisi pelatihan baik umum maupun mahasiswa. KontaK Person: 0852 6194 1878

Leave a Reply

Your email address will not be published.