Merancang Pola Pendidikan Karakter

Penulis: Muhammad Syafi’i Saragih, M.A

Dosen, Penulis, & Guru di Pesantren Modern Al Barokah Simalungun

Karakter itu soal rasa, bukan pikiran. Rasa itu ada di hati. Hati yang berfungsi merasa. Sedih, senang, cinta, empati, semangat, gigih, dan banyak lagi yang hubungannya dengan rasa. Dari rasa yang ada di hatilah munculnya Sikap dan perbuatan. Kalau hatinya bagus, baguslah sikap dan perbuatannya. Ini hadis, Nabi pernah mengatakan bahwa dalam setiap diri manusia itu ada segumpal daging, yang kalau itu baik, maka baik semua perbuatannya, kalau buruk, buruk pula perbuatannya. Itulah hati. Artinya, mendidik karakter ya mendidik hati (afektif). Mendidik hati itu beda dengan medidik pikiran (kognitif).

Dalam pendidikan kita, yang tertuang dalam UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 bahwa tujuan pendidikan nasional itu memprioritaskan soal iman, ketakwaan, dan akhlak mulia. Artinya, bahwa pemerintah sadar betul kalau karakter itu fondasi penting dalam tatanan hidup dan kehidupan. Nah, sekolah di sini punya peran penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Pertanyaannya, sudahkah sekolah secara garis besar, mampu mewujudkan cita-cita pendidikan ini?.

Jujur, untuk mengukurnya tentu sulit. Tapi, barangkali apa yang tampak dalam kehidupan bangsa ini, dari seluruh aspeknya, apakah politik, ekonomi, hukum, sosial budaya, keagamaan, dan lainnya bisa menjadi gambaran. Bangsa yang sehat itu, cirinya antara lain ya keseimbangan politik, hukum, ekonomi, dan lainnya. Setidaknya ada tiga prinsip yang harus dijunjung oleh satu bangsa agar sampai pada bangsa yang beradab dan berperadaban tinggi; persamaan derajat, keadilan sosial, dan persaudaraan. Nah, di sini, pendidikanlah yang berperan sangat penting, yang salah satunya adalah pendidikan karakter.

Seperti yang saya sebut di atas, mendidik karakter itu beda dengan mendidik pikiran. Mendidik karakter itu mendidik rasa. Jadi, harus menyentuh rasa. Kurikulum pendidikan karakter itu ya kehidupan itu sendiri.

Artikel Menarik Lainnya  Jangan Menilai Orang Lain, Nilailah Diri Sendiri

Saya masih ingat, program TV swasta “andai aku menjadi…”, Dan “Tukar nasib”. Di sini, seseorang dihadapkan pada situasi dan keadaan yang bukan keadaan dia sebenarnya, seseorang dibuat untuk mengalami banyak hal. Seorang pengusaha selama seminggu menjadi pemulung, begitu sebaliknya. Nah, di situlah mereka akan merasakan keadaan yang benar-benar menguji. Disitulah terjadi proses pendidikan karakter itu.

Saya teringat, di satu kesempatan, saya meminta mahasiswa untuk membuat penelitian kecil tentang model pembelajaran karakter. Ada satu mahasiswa yang selama dua minggu membuat penelitian tentang anak yang suka jahil dan memukul temannya. Jadi, salah satu trik yang dilakukan oleh mahasiswa ini adalah menunjukkan foto dan orang yang mukanya lebam kena pukul. Dengan nasehat yang lembut, dan si anak diajak melihat suatu fakta, terjadi perubahan pada anak itu.

Nah, jadi mendidik karakter itu, mendidik rasa. Anak-anak harus sering diajak untuk merasakan sesuatu. Untuk menumbuhkan empati misalnya, anak-anak bisa diajak untuk pergi kunjungan ke panti-panti asuhan melihat bagaimana kehidupan anak-anak yatim piatu di sana, mereka diarahkan untuk berinteraksi dengan anak yatim untuk mendengarkan tentang kehidupan mereka. Jadi, dengan begitu, pendidikan akan menyentuh hatinya. Sehingga ,ketika anak

sering dihadapkan dan diajak untuk banyak merasakan, akan tumbuh karakter dan perilaku yang lebih baik.

Di sinilah, barangkali yang menurut saya harus lebih banyak kita lakukan. Pendidikan karakter gak cukup kalau cuma di ruang kelas. Karena, di kelas itu, tempatnya teori. Bukan kenyataan. Kelas itu lebih banyak berkutat dalam ide, bukan kenyataan. Pembelajaran itu harus lebih banyak berputar pada kenyataan hidup. Di sinilah yang menurut saya, para pendidik perlu melakukan banyak kreasi dan inovasi mendesain kurikulum kehidupan untuk pendidikan karakter, sehingga tujuan prioritas pendidikan nasional bisa terwujud untuk sebuah bangsa yang beradab dan berperadaban tinggi.

Artikel Menarik Lainnya  Untuk Mahasiswa

Allahu A’lam

MUHAMMAD SYAFII SARAGIH

Saya Guru dan Dosen, suka Menulis dan Meneliti, sudah Menulis beberapa buku yang terbit di penerbit Mayor. dan mengisi pelatihan baik umum maupun mahasiswa. KontaK Person: 0852 6194 1878

Leave a Reply

Your email address will not be published.