Salah Kaprah Menyambut Tahun Baru

Penulis: Muhammad Syafi’i Saragih, M.A

Dosen, Penulis, Guru di Pesantren Modern Al Barokah Simalungun

Sekilas Sejarah Tahun Baru Masehi
Arthur M. Eckstein dalam buku Senate and General: Individual Decision-making and Roman Foreign Relations 264-194 B.C. (1987) menuliskan, tahun 45 SM, tidak lama setelah dinobatkan sebagai kaisar, Julius Caesar memberlakukan penanggalan baru untuk menggantikan kalender tradisional yang sudah digunakan sejak abad ke-7 SM.

Julius Caesar dan Senat Romawi kemudian memutuskan tanggal 1 Januari sebagai hari pertama dalam kalender baru itu. Istilah Januari diambil dari nama salah satu dewa dalam mitologi bangsa Romawi, yakni Dewa Janus.

Buku New Year’s Celebrations (2007) yang disusun oleh Katie Kubesh, Niki McNeil, dan Kimm Bellotto, memaparkan alasan dipilihnya nama Dewa Janus sebagai awal tahun baru dalam kalender anyar Romawi itu, serta tradisi awal masyarakat Romawi untuk merayakan pergantian tahun.

Dijelaskan, Dewa Janus memiliki dua wajah yang menghadap ke depan dan belakang. Dalam kepercayaan orang Romawi, Janus diyakini sebagai dewa permulaan sekaligus dewa penjaga pintu masuk.

Maka, sejak diberlakukan kalender anyar itu, setiap tengah malam jelang pergantian tahun, yakni 31 Desember, orang-orang Romawi menggelar perayaan untuk menghormati Dewa Janus. Mereka membayangkan, satu wajah Janus melihat ke tahun lama dan wajah lainnya menatap hari-hari ke depan di tahun baru.

Orang-orang Romawi pun memulai tradisi dengan saling memberikan hadiah pada malam tahun baru. Menurut keyakinan mereka, akhir tahun lama dan awal tahun baru adalah saat yang tepat untuk memberikan hadiah bermakna, biasanya berupa ranting dari pohon-pohon keramat, atau perak dan emas, yang melambangkan keberuntungan.

Beberapa jenis makanan disajikan, terutama madu dan permen yang dianggap sebagai simbol kedamaian. Rumah dan lingkungan sekitar dihias dengan lampu berwarna-warni dengan harapan satu tahun ke depan akan dilalui dengan penuh dengan cahaya atau kecemerlangan dalam hidup.

Artikel Menarik Lainnya  NILAI BELAJAR ITU NGGAK PENTING

Tidak lupa, sebagai wujud penghormatan kepada Dewa Janus, orang-orang Romawi mempersembahkan koin-koin emas dengan gambar dewa mereka itu. Harapannya, Dewa Janus akan selalu memberkati mereka dalam kehidupan setahun ke depan.

Bagaimana Menghadapi Tahun Baru Masehi?

Lantas, apa yang harus kita lakukan dalam menyambut tahun baru Masehi?.

Faktanya, banyak orang, termasuk orang Islam, yang hanyut dalam euforia tahun baru Masehi, baik tua, muda, dan anak-anak. Dari mana kita lihat euforia itu?, Coba amati, setiap tahun baru Masehi datang, sebagian besar masyarakat muslim merayakannya dengan penuh sukacita, dengan berbagai kegiatan yang umumnya lebih bersifat hura-hura saja. Ada yang bakar-bakar, kumpul di cafe, buat party, berkumpul di lapangan, yang semua itu menunggu bergantinya tahun tepatnya pada pukul 12 malam. Yang parahnya lagi, sebagian anak muda mudi memadu kasih dan menyerahkan segala kesucian mereka pada malam tahun baru itu.

Inikah cara kita menyambut tahun baru Masehi?, Yang sejatinya juga, kalau tahun baru Masehi bukanlah tahun baru kita sebagai umat Islam. Terlepas dari perbedaan tahun baru Masehi dan hijriyah, pada momen tahun baru Masehi ini, Sudah selayaknya kita tidak terjebak dalam hiruk pikuk dan gemerlapnya perayaan tersebut.

Momen pergantian tahun, mestinya dimaknai sebagai momen introspeksi. Karena sejatinya, momen ini berarti berkurangnya jatah kita hidup di dunia. Artinya kita sedang mendekati kematian. Pertanyaannya, bekal apa yang akan kita bawa untuk kehidupan selanjutnya?, Sudah layakkah kita disebut ahli surga?, Allahu A’lam..

Saatnya momen ini kita jadikan renungan mendalam tentang kehidupan kita ke depan, yang abadi. Mari mengingat dosa-dosa yang sudah kita lakukan, keburukan-keburukan yang ada pada diri kita, untuk kemudian berbenah diri menuju yang lebih baik, sehingga hidup yang kita jalani di dunia ini, semakin hari semakin menunjukkan adanya peningkatan terutama dalam aspek ibadah. Bukankah kita diciptakan untuk beribadah kepada sang Khaliq?.

Artikel Menarik Lainnya  Islam Subtansial, Bukan Sekedar Simbolis

Ingatlah, bahwa akhirat lebih baik dari dunia. Sebagaimana firman Allah SWT, “Bahwa Akhirat lebih baik dari yang pertama (dunia)”.
Renungkanlah..

Allahu A’lam

MUHAMMAD SYAFII SARAGIH

Saya Guru dan Dosen, suka Menulis dan Meneliti, sudah Menulis beberapa buku yang terbit di penerbit Mayor. dan mengisi pelatihan baik umum maupun mahasiswa. KontaK Person: 0852 6194 1878

One thought on “Salah Kaprah Menyambut Tahun Baru

  • 30/12/2020 at 01:38
    Permalink

    Luar biasa pak syafii, semangat dan teruslah berkarya. Dengan menulis anda akan merubah dunia, insyaAllah Amiin.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.