SAYANG IZINKAN AKU MENIKAH LAGI

Penulis: Juriah, S. Ag 

ASN Penyuluh Agama Islam Kabupaten Agam Bukit Tinggi 

Akhir Desembember 2012

Tahun pertama penulis bertugas di Kantor K.U.A, di sebuah kecamatan yang  penduduknya heterogen, ada berbagai kondisi manusia disini. Apa lagi karena bertetangga dengan sebuah kota wisata yang sangat terkenal di Negara kita. Bertugas sebagai sorang penyuluh agama Islam Fungsional. Selain berdakwah  membina umat, penyuluh juga bertindak sebagai konselor yang ikut memberi bimbingan dan penasehatan pada calon pengantin,mencarikan jalan keluar atau memberi solusi pada  masyarakat yang datang kekantor atau minta dikunjungi kerumah untuk mendiskusikan masalah rumah tangga yang sedang mereka hadapi.  dan masalah keagamaan lainnya

Pagi yang indah, hiruk pikuk suara kendaraan yang lalu lalang didepan kantor membuat suasana sedikit bising. Saatnya Ku memulai kesibukan di kantor sebagaimana biasa.

“Assalamualaikum.” Terdengar salam lembut dari seorang wanita muda,wajahnya putih bersih ,pipinya agak tirus kelihatan tenang dengan tatapan  dingin,tampa ekpresi. tubuhnya  yang kurus tetap tergambar walau dibungkus dengan gamis longgar dan hijab lebar.  Tempat duduk penulis yang memang berhadapan langsung dengan pintu ,menjadikan penulis lah yang pertama menyambut salamnya dan menyapanya,

“Waalaikumsalam, silakan masuk Dik, “ jawabku sambil mempersilakannya duduk.

“Ada yang bisa kami bantu?” Kucoba lanjutkan pertanyaan pada sosok wanita yang sedang menunduk dalam kebisuan didepanku, pelan ia angkat wajah tanpa gelisah tapi tegang penuh misteri, wanita itu menatap tepat ke mata ku.

“ Boleh kita bicara Berdua saja ibu,?” Tanyanya penuh harap. Tanpa menjawab kupegang tangannya yang terasa dingin saat kusentuh lalu kubimbing ke sebuah ruangan serba guna, kadang untuk aqad nikah, untuk penasehatan calon pengantin sekaligus tempat mendengarkan keluh kesah tamu yang datang dengan gelisah, membawa masalah untuk sekedar didengar, dan kalau bisa diberikan jalan keluar.  Setelah menyebut nama dan alamatnya kumulai berdialog dengan wanita yang menyebut namanya Nuri. Ia pun mulai berkisah…

Artikel Menarik Lainnya  Pelukan Juga Kebutuhan

Menjeput Dinda

Terik mata hari mulai menyengat kulit, saat  Nuri meninggalkan rumah, untuk menjeput  Dinda ke sekolah. Sebagaimana biasa Nuri lakukan selama ini. Sekolah Dinda terletak tidak begitu jauh dari rumah,kira kira 10 menit perjalanan. Mengantar dan menjeput anak anak sejak dulu memang tugas rutin Nuri. Suaminya bahkan gak tau kapan anak mulai sekolah, Dia gak pernah bertanya.bahkan mungkin tidak ingin tau sama sekali. Tiba – tiba mobil Afanza hitam menepi persis didepan gang yang akan dilalu Nuri, Nuri berusaha tersenyum,walau senyumnya lebih mirip orang meringis karena memang sinar matahari menimpa matanya. Ada Rasa Bahagia dihati Nuri, Suami Yang Sudah  hamper 12 Tahun menjadi pendaping hidupnya tiba dengan selamat. Sebagai supir travel antar propinsi kadang hati Nuri sering dihinggapi rasa cemas saat suami berada dijalan raya yang  sering terjadi kecelakaan yang tidak terduga.

”Eh…abang, Baru Sampai ?”Tanya Nuri lembut.

”Ya… !”Jawab  Edo, “Jeput dinda?” Lanjut Edo.”

“Ya, Bang, Ke rumah  yok.” Jawab Nuri. Sambil membalik badannya agar bisa mengiringi kenderaan suaminya.

“Tapi mau jemput dinda, biar abang duluan aja,” Jawab Edo sambil berlalu tampa menunggu Jawaban istrinya, Nuri  hanya memandang mobil avanza yang terburu meninggalkan dirinya menuju rumah tempat dia tinggal bersama ibu dan dua gadis kecil buah cintanya dengan Edo.

Bersambung 

MUHAMMAD SYAFII SARAGIH

Saya Guru dan Dosen, suka Menulis dan Meneliti, sudah Menulis beberapa buku yang terbit di penerbit Mayor. dan mengisi pelatihan baik umum maupun mahasiswa. KontaK Person: 0852 6194 1878

Leave a Reply

Your email address will not be published.