Toxic Positivity

Penulis   : Ayu Ramadhani, S.Pd

Profesi    : Pendidik

 

Pernahkah kalian curhat pada teman, sahabat, orang tua atau siapapun orang yang kalian percaya ? pernahkah kalian mendengarkan curhatan orang lain ? saya yakin dan percaya pasti pernah, walaupun hanya curhat pada satu orang. Ketika kalian curhat kesedihan, bagaimana respon pertama yang diberikan ? atau apa respon pertama kalian ketika mendengar curhatan kesedihan dari orang lain ? apakah kalian mengatakan “jangan sedih ya”, “semangat dong, biar saja Tuhan yang balas”, “kamu tidak perlu marah dan kecewa, nanti ia juga kenak imbasnya”, “yaudalah gitu doang, di luar sana masih banyak yang lebih sulit hidupnya daripada kamu”, “kamu gitu aja sedih, aku nih pernah bla bla bla biasa aja tuh”, “jangan putus asa gitu dong”, “kamu harusnya bersyukur”, “uda deh ambil hikmahnya aja”. Dan masih banyak lagi kalimat seolah mengobati, namun justru meracuni. Inilah yang dinamakan Toxic Positivity. Cover nya sih tampak positif banget yah, namun isinya negatif. Tanpa disadari pula bisa berdampak pada kesehatan mental loh. Dan pastinya membuat orang lain tidak nyaman berbagi cerita sedihnya pada kita. Bagaimana bisa nyaman coba, di saat ia sedang kalut, sedang dipenuhi masalah yang membuatnya terpuruk,, niat hati berbagi cerita pada kita supaya lebih ringan, eh kita dengan mudahnya bilang “ayo dong semangat” atau “yaelah gitu aja sedih, gitu aja galau, gitu aja overthinking” atau kalimat toxic lainnya. Terkadang orang yang sedang dipenuhi masalah dan kesedihan hanya butuh didengarkan ceritanya. Terkadang pula mereka tidak membutuhkan solusi kita, tidak membutuhkan semangat dan motivasi dari kita. Cukup,, kita simak ceritanya dengan baik dan katakan “aku tahu kok kamu sedang ada di posisi sulit, masalah rumit, dan kesedihan mendalam. Pasti berat yah, capek juga kan ? gak apa yah. Ya gak apa sedih, gak apa menangis, gak apa marah, gak apa pula kecewa. Wajar kale, namanya juga manusia punya rasa. Baik rasa senang maupun sedih. Sekarang kamu sedih ya gak apa asalkan jangan larut yah”. Ayu kalau ada orang curhat responnya gitu yah ? ya enggak, setelah ku ingat-ingat aku juga sering menjadi toxic positivity bagi orang lain. Sebelum aku menyadari bahwa respon yang selama ini ku anggap baik, ku anggap dapat mengobati ternyata meracuni jiwa orang-orang yang berbagi ceritanya padaku. Tidak jarang juga aku seolah memaksa mereka untuk tidak mengikuti emosi negatifnya itu. Seolah memaksa mereka bahwa mereka harus positif terus. Karena bagiku emosi positif itu baik dan emosi negatif itu buruk sehingga tidak perlu memberi peluang bagi diri untuk merasakan emosi negatif. Dan ternyata selama ini aku salah besar. Emosi negatif yang terus ditekan, ditahan dan seolah dikerdilkan apalagi berusaha untuk tidak dirasakan sama sekali akan menambah sampah di dalam gudang jiwa yang suatu saat bisa meledak sedemikian parah. Ada yang depresi, ada yang benar-benar gila. Bahkan tidak jarang orang yang pada akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Nah, ketika mendengar ataupun melihat kasus seperti itu bagaimana respon kita ? ya, sebagian orang mungkin merasa “dia kok gak berpikir yah bunuh diri itu bukan solusi terbaik ?” “ini orang pasti jauh dari Tuhan” “ini orang pasti tidak bisa berpikir panjang”.. dan masih banyak lagi. Tidak semua seperti itu, tapi ada… banyak.

Artikel Menarik Lainnya  Penyebab Insecure

Ketika ada orang yang depresi bahkan sampai melakukan hal-hal yang membahayakan, orang gila, orang yang bunuh diri, dan lainnya. Terbayang gak gimana beratnya ia menanggung beban kepedihan ? atau justru mengatakan hal-hal yang menyepelekan kepedihan mereka dengan berbagai ungkapan ? “halah, masa putus cinta aja bunuh diri sih kaya gak ada lagi aja laki-laki atau perempuan lain di muka bumi ini” “halah gak lulus jadi polisi (atau apapun) aja gila” “halah gak lulus di PTN itu aja depresi”. Temen-temen,, kita harus paham bahwa setiap orang memiliki kekuatan yang berbeda-beda dalam menghadapi masalah. Yang kita anggap mudah dilalui belum tentu mudah pula bagi orang lain. Yang kita anggap ringan mungkin sangat berat bagi orang lain. Begitu pula sebaliknya, yang kita anggap berat mungkin gak ada apa-apanya bagi orang lain. Dan yang kita anggap sulit untuk dilalui mungkin sangat mudah dilalui orang lain. Jadi, bila tidak dapat menjadi obat setidaknya jangan menjadi racun.

Begitu pula pada diri sendiri. Jangan menjadi Toxic Positivity bagi diri sendiri. Gak salah kok menuruti emosi negatif diri sendiri. Tidak perlu disembunyikan emosi-emosi negatif itu. Sekali lagi, Allah itu Maha Adil, Allah sangat adil dalam menciptakan segala sesuatu. Allah menciptakan emosi positif juga menciptakan emosi negatif. Dan setiap manusia berhak merasakan keduanya, kuncinya tidak melewati batas, tidak berlebihan. Silahkan sedih, silahkan kecewa, silahkan marah,, tapi jangan sampai menzalimi orang lain, jangan pula menzalimi diri sendiri. Setiap kita memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikannya. Pastikan cara kita tidak melanggar aturan Allah.

Yok kita sama-sama menjaga kesehatan mental dengan cara mengurangi racun yang merasuk jiwa kita, juga tidak meracuni jiwa lainnya. Semoga Allah curahkan segala kebaikan untuk teman-teman semua. Aamiin.

Artikel Menarik Lainnya  Mengenal Ilmu Qiraat Al-Qur'an

Wallahu a’lam

 

MUHAMMAD SYAFII SARAGIH

Saya Guru dan Dosen, suka Menulis dan Meneliti, sudah Menulis beberapa buku yang terbit di penerbit Mayor. dan mengisi pelatihan baik umum maupun mahasiswa. KontaK Person: 0852 6194 1878

Leave a Reply

Your email address will not be published.